Tes Laboratorium dan Antibody HIV

https://www.infokeperawatan.comTes laboratorium

Sejak ditemukannya HIV pada tahun 1983, para ilmuan telah belajar banyak tentang karakteristik dan patogenisitas virus tersebut. Berdasarkan pengetahuan ini telah dikembangkan sejumlah tes diagnostic yang sebagian masih bersifat penelitian.

Tes atau pemeriksaan laboratorium kini digunakan untuk mendiagnosis HIV dan memantau perkembangan penyakit serta responnya terhadap terapi pada orang yang terinfeksi HIV.

Tes antibody HIV

Kalau seseorang terinfeksi oleh virus HIV, system imunya akan bereaksi dengan memproduksi antibody terhadap virus tersebut. Antibody umumnya terbentuk dalam waktu 3 hingga 12 minggu setelah terkena infeksi, kendati pembentukan antibody ini dapat memerlukan waktu sampai 6 hingga 14 bulan; kenyataan ini menjelaskan mengapa seseorang dapat terinfeksi tetapi pada mulanya tidak memperlihatkan hasil tes yang positif.

Sayangnya, antibody untuk HIV tidak efektif dan tidak dapat menghentikan perkembangan infeksi HIV. Kemampuan untuk mendeteksi antibody HIV dalam darah telah memungkinkan pemeriksaan skrining produk darah dan memudahkan evaluasi diagnostic pada pasien-pasien terinfeksi HIV.

Pada tahun 1985, Food and Drug Administration (FDA) mengeluarkan lisensi untuk uji-kadar antibody HIV bagi semua pendonoran darah dan plasma.

Ada tiga buah tes untuk memastikan adanya antibody terhadap HIV dan membantu mendiagnosis infeksi HIV. Tes enzyme- linked immunosorbent assay (ELISA) mengidentifikasi antibody yang secara spesifik ditujukan kepada virus HIV.

Tes ELISA tidak menegakkan diagnosis penyakit AIDS tetapi lebih menunjukkan bahwa seseorang pernah terkena atau terinfeksi oleh virus HIV. Orang yang darahnya megandung antibody untuk HIV disebut sebagai orang yang seropositif.

Pemeriksaan Western blot assay merupakan tes lainnya yang dapat mengenali antibody HIV dan digunakan untuk memastikan seropositivitas seperti yang teridentifikasi lewat prosedur ELISA. Indirect immunofluorescence assay (IFA) kini sedang digunakan oleh sebagian dokter sebagai pengganti pemeriksaan Western blot untuk memastikan seropositivitas.

Tes lainnya, yaitu radiommunoprecipitation assay (RIPA), lebih mendeteksi protein HIV ketimbang antibody.