Terapi Farmakologi Penyakit Reumatik

https://www.infokeperawatan.comTerapi farmakologik penyakit reumatik pada pasien yang berusia lanjut lebih sulit dibandingkan pada pasien yang berusia lebih muda.

Jika obat-obatan yang digunakan memiliki efek pada indra (pendengaran, kognitif), efek ini akan semakin intensif pada lansia.

Efek kumulatif obat-obatan menjadi semakin menonjol karena perubahan fisiologik dalam proses penuaan. Sebagai contoh, penurunan faal ginjal pada lansia akan menhubah metabolisme obat-obat tertentu, seperti NSAID.

Pasien yang berusia lanjut lebih cenderung untuk mengalami efek samping seperti ulserasi atau perdarahan gastroduodenum, dan kelompok usia ini lebih besar kemungkinannya untuk menggunakan obat-obat di luar resep dokter, mencoba banyak macam obat yang berbeda-beda (polifarmasi) dan lebih rentang terhadap metode terapi yang belum terbukti.

Pasien berusia lanjut yang menderita bentuk tertentu artritis tidak selalu menerima atau mananggung rasa nyeri, gangguan gerak dan kesulitan dalam melaksanakan aktivitas hidup sehari-hari.

Kebutuhan untuk memandang bahwa dirinya masih mampu menanggulangi aktivitas hidupnya tanpa bantuan orang sekalipun usia sudah bertambah lanjut dapat menghabiskan energi yang sangat besar.

Citra tubuh  dan rasa percaya diri pasien artritis yang berusia-lanjut yang ditambah lagi dengan depresi yang mendasarinya dapat mempegaruhi pemakaian alat bantu seperti tongkat.

Penggunaan alat adaptif seperti alat penjangkau atau alat jepit berlengan-panjang mungkin dilihat sebagai bukti adanya penuaan ketimbang sebagai sarana untuk meningkatkan kemandirian.

Orang berusia lanjut biasanya sudah memiliki pola yang sudah ada sejak lama dalam menghadapi masalah stres. Bergantung pada keberhasilan pola ini, pasien lansia kerapkali dapat mempertahankan sikap yang positif dan rasa percaya dirinya ketika berhadapan dengan penyakit reumatik khususnya bila mereka dibantu oleh perawat yang terampil.