Terapi Antiretrovirus Zidovudin Untuk Memerangi AIDS

https://www.infokeperawatan.comTerapi antiretrovirus

Saat ini terdapat empat preparat antiretrovirus yang sudah disetujui oleh FDA untuk pengobatan HIV. Keempat preparat tersebut adalah: zidovudin (ZDV; dahulu disebut azidotimidin [AZT] atau Retrovir), dideoksinosin atau didanosin (ddl [Videx]), dideoksisitidin (ddC[Hivid]) dan stavudin (d4T, Zerit).

Semua obat ini menghambat kerja enzim reverse transcriptase virus dan mencegah reproduksi virus HIV dengan cara meniru salah satu substansi molekuler yang digunakan virus tersebut untuk membangun DNA bagi partikel-partikel  virus yang baru. Dengan mengubah komponen structural rantai DNA, produksi virus yang baru akan dihambat.

Zidovudin

Penemuan zidovudin sangat signifikan dalam memerangi penyakit AIDS. Pada tahun 1987, FDA menyetujui penggunaan zidovudin untuk pengobatan infeksi HIV/AIDS yang berat.

Pada tahun 1990, zidovudin disetujui FDA untuk penggunaan yang lebih awal dalam perjalanan infeksi tersebut sebelum terjadi imunosupresi yang berat.

Pada tahun 1994, penggunaannya pada wanita hamil dengan HIV positif disetujui untuk memperkecil risiko penularan perinatal infeksi virus tersebut.

Pengukuran jumlah CD4+ merupakan parameter penting untuk menentukan tingkat imunosupresi. Jumlah CD4+ mencerminkan jumlah limfosit sel-T helper yang beredar.

Jumlah CD4+ yang normal berkisar dari 700 hingga 1200/mm3. Saat ini terapi dengan zidovudin sudah disetujui untuk semua orang yang terinfeksi HIV dengan jumlah CD4+ di bawah 500/mm3.

Penelitian memeperlihatkan bahwa zidovudin memperlambat perjalanan penyakit AIDS atau penyakit yang simtomatik pada pasien-pasien dengan HIV-positif tanpa gejala kecuali dengan jumlah sel CD4+ dibawah 500/mm3 atau pada pasien-pasien dengan gejala yang ringan sementara jumlah sel CD4+ dibawah 200/mm3. Zidovudin menurunkan kadar antigen p24 dan meningkatkan jumlah sel T4.

Zidovudin merupakan preparat yang cukup toksik bagi sumsum tulang dengan menimbulkan anemia yang membatasi dosis pemberiannya dan neutropenia yang mengharuskan penghentian pemberian obat tersebut.

Pemberian zidovudin harus dihentikan jika pasien memerlukan terapi untuk infeksi oportunis, limfoma dan kelainan malignansi lainnya karena terapi bagi semua keadaan ini dapat pula menimbulkan toksisitas hematologi.

Factor penstimulasi koloni granulosit (G-CSF; granulocyte colony-stimulating factor) dan epoetin alfa (human recombinant erythropoietin [Epogen, Procrit]) terbukti efektif untuk mengobati anemia dan neutropenia yang berkaitan dengan pemberian zidovudin.

Factor penstimulasi-koloni merupakan substansi yang secara alami diproduksi oleh tubuh untuk menstimulasi pertumbuhan serta produksi sel darah merah dan putih.

Efek merugikan lainnya pada pemberian zidovudin mencakup mual, rasa tidak nyaman pada abdomen, demam/panas, menggigil, mialgia dan sakit kepala; efek merugikan yang lebih jarang terjadi adalah konfusi, somnolen dan kejang.

Kepada pasien harus diberitahukan mengenai pentingnya pemeriksaan medis yang teratur, dan penilaian serta penatalaksanaan efek yang merugikan tersebut perlu dilakukan. Rujukan untuk konseling financial kerapkali diperlukan mengingat penggunaan obat ini memerlukan biaya tinggi.