Respons Kardiovaskuler Pada Luka Bakar

https://www.infokeperawatan.comCurah jantung akan menurun sebelum perubahan yang signifikan pada volume darah terlihat dengan jelas. Karena berlanjutnya kehilangan cairan dan berkurangnya volume vaskuler, maka curah jantung akan terus turun dan terjadi penurunan tekanan darah. Keadaan ini merupakan awitan syok luka bakar.

Sebagai respons, sistem saraf simpatik akan melepaskan katekolamin yang meningkatkan resistensi parifer (vasokonstriksi) dan frekuensi dengan nadi. Selanjutnya vasokonstriksi pembuluh darah perifer menurunkan curah jantung.

Resusitasi cairan yang segera dilakukan memungkinkan dipertahankannya tekanan darah dalam kisaran normal yang rendah sehingga curah jantung membaik.

Meskipun sudah dilakukan resusitasi cairan yang adekuat, tekanan pengisian jantung -tekanan vena sentral, tekanan arteri pulmonalis dan tekanan baji arteri pulmonalis – tetap rendah selama periode syok luka bakar. Jika resusitasi cairan adekuat, akan terjadi syok distributif.

Umumnya jumlah kebocoran cairan yang terbesar terjadi dalam 24 hingga 36 jam pertama sesudah luka bakar dan mencapai puncaknya dalam tempo 6 hingga 8 jam.

Dengan terjadinya pemulihan integritas kapiler, syok luka bakar akan menghilang dan cairan mengalir kembali kedalam kompartemen vaskuler.

Setelah cairan diabsorpsi kembali dari jaringan interstisial ke dalam kompartemen vaskuler, volume darah meninggkat. Jika fungsi renal dan kardiak masih memadai haluaran urin akan meningkat. Diuresis berlanjut selama beberapa hari hingga 2 minggu.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, pada luka bakar yang kurang dari 30 % luas total permukaan tubuh, maka gangguan integritas kapiler dan perpindahan cairan akan terbatas pada luka bakar itu sendiri sehingga pembentukan lepuh dan edema hanya terjadi di daerah luka bakar.

Pasien luka bakar yang lebih parah akan mengalami edema sistemik yang masif. Karena edema akan bertambah berat pada luka bakar yang melingkar (sirkumferensial), tekanan terhadap pembuluh darah kecil dan saraf pada ekstremitas distal menyebabkan obstruksi aliran darah sehingga terjadi iskemia.

Komplikasi ini dinamakan sindrom kompartemen (compartment syndrome). Dokter harus melakukan tindakan eskarotomi (insisi pada eskar) untuk mengurangi efek konstriksi dari jaringan yang terbakar.