Pertimbangan Gerontologik Pada Permasalahan Kulit

https://www.infokeperawatan.comFungsi Respons Imun

Hasil-hasil penelitian terakhir (Nickoloff, 1993) menunjukkan bahwa beberapa sel dermal (sel-sel langerhans, interleukin- 1 yang memproduksi keratinosit, dan subkelompok limfosit-T) merupakan komponen penting dalam sistem imun. Penelitian yang masih berlangsung harus mendefinisikan lebih jelas peranan sel-sel dermal ini dalam fungsi imun.

Pertimbangan Gerontologik

Sebelum melaksanakan pengkajian kulit, perawat harus menyadari berbagai perubahan yang signifikan dalam proses penuaan. Perubahan utama pada kulit lansia meliputi kekeringan, pengeriputan, pigmentasi yang tidak rata dan berbagai lesi proliferatif.

Perubahan seluler yang berhubungan dengan penuaan adalah penipisan titik temu dermis dan epidermis. Keadaan ini menyebabkan lokasi pengikatan yang lebih sedikit antara dua lapisan kulit tersebut sehingga cedera atau stres yang ringan sekalipun pada epidermis dapat menyebabkan lapisan itu terlepas dari dermis.

Fenomena penuaan ini menjadi penyebab meningkatnya kerentanan kulit yang menua terhadap trauma (Webster & Uitto, 1992). Sejalan dengan bertambahnya usia, epidermis dan dermis akan menipis dan mendatar sehingga timbul pengeriputan kulit, kulit yang menggantung dan lipatan kulit yang saling tumpang tindih.

Hilangnya substansi elastin, kolagen dan lemak subkutan dalam jaringan bawah kulit akan mengurangi daya perlindungan serta pembatalan jaringan dan organ di bawahnya serta menurunkan tonus otot.

Pergantian sel akan melambat karena proses penuaan. Dengan terjadinya penipisan lapisan dermis, kulit akan menjadi rapuh dan transparan.

Pasokan darah ke kulit juga berubah sejalan dengan bertambahnya usia. Pembuluh darah, terutama lingkaran kapiler, akan menurun jumlah dan ukurannya (Webster dan Uitto, 1992).

Perubahan vaskuler ini turut menghambat penyembuhan luka yang umum terlihat pada pasien-pasien lansia. Selain itu, kelenjar keringat dan kelenjar sebasea juga akan menurun jumlah dan kapasitas fungsionalnya sehingga kulit menjadi kering dan bersisik. Penurunan kadar hormon andtrogen diperkirakan turut menyebabkan berkurangnya fungsi kelenjar sabasea.

Pertumbuhan rambut akan berkuran secara bertahap, terutamarambut di tungkai bawah dan dorsun kaki. Penipisan rambut sering terlihat di kulit kepala, aksila dan pubis.

Fungsi lain yang dipengaruhi oleh proses penuaan normal adalah fungsi barier, persepsi sensorik dan termoregulasi (Mortom, 1993).

Photoaging atau kerusakan karena pajanan matahari berlebihan akan menimbulkan efek yang sangat merugikan pada proses penuaan kulit normal.

Pekerjaan atau aktivitas di luar rumah yang dilakukan seumur hidup (seperti pekerja konstruksi, penjaga pantai atau orang yang senang berjemur) tanpa pemakaian tabir surya dapat menimbulkan pengeriputan kulit yang mencolok, bertambahnya kehilangan elastisitas, area berpigmen mottle, atrofi kutan dan lesi benigna atau maligna. Menunjukkan efek pajanan matahari seumur hidup yang berlebihan dan proses penuaan.

Singkatnya, kulit lansia akan mengalami banyak penurunan fisiologis yang berkaitan dengan proses penuaan normal. Pajanan matahari yang berlebihan seumur hidup, berbagai penyakit sistemik, nutrisi yang buruk dan pemakaian obat-obatan dapat memperluas rentang masalah kulit dan mempercepat timbulnya masalah tersebut, yang akibatnya adalah peningkatan kerentanan terhadap cedera dan penyakit tertentu. Masalah kulit adalah hal yang umum terjadi pada lansia.