Perawatan Pasien Luka Bakar

https://www.infokeperawatan.comKateter urin indwelling dipasang untuk memungkinkan pemantauan haluaran urin dan faal ginjal yang lebih akurat. Nilai-nilai dasar untuk tinggi dan berat badan, gas darah arteri, hematokrit, elektrolit, golongan darah serta hasil pencocokan-silang (cross-matching), urinalisis, dan foto rontgen toraks harus didapat.

Jika pasien menderita luka bakar listrik, pemeriksaan elektrokardiogram dasar harus dilakukan. Karena luka bakar merupakan luka yang terkontaminasi, tindakan profilaksis tetanus perlu dilakukan jika status imunisasi pasien tidak jelas.

Meskipun focus utama perawatan selama fase darurat berupa stabilisasi fisik, perawat harus memperhatikan pula kebutuhan psikologis pasien dan keluarganya.

Luka bakar merupakan suatu krisis yang menimbulkan berbagai respons emosional. Kemampuan koping pasien dan keluarga dan dukungan yang tersedia harus dinilai bersama-sama dengan pengkajian terhadap status fisik dan penyelenggaraan perawatan.

Lingkungan dan disekililing luka bakar perlu diperhatikan ketika melaksanakan perawatan. Dukungan psikososial yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien harus diberikan kepada pasien dan keluarganya.

Karena pasien luka bakar yang bersifat darurat biasanya mengalami ansietas dan rasa sakit, maka petugas yang merawatnya harus menenteramkan perasaan tersebut serta memberikan dukungan, menjelaskan prosedur yang akan dilaksanakan, dan melakukan terapi untuk mengurangi rasa sakit.

Karena perfusi jaringan yang buruk akan menyertai luka bakar, pemberian obat pereda nyeri (biasanya morfin) hanya dilakukan secara intravena. Jika pasien ingin menemui penasihat spiritualnya (ulama, pendeta dll), kita harus memberitahukannya.