Perawatan Luka Bakar Selama Fase Darurat atau Resusitasi

https://www.infokeperawatan.comPengkajian

Data-data hasil pengkajian yang didapat lewat petugas di luar rumah sakit (petugas penyelamat, seperti PPPK atau petugas gawat-darurat) harus dibagikan kepada perawat dan dokter pada klinik kedaruratan.

Pengkajian keperawatan dalam fase darurat luka bakar berfokus pada prioritas utama bagi setiap pasien trauma dengan harus dibagikan kepada perawat dan dokter pada klinik kedaruratan.

Pengkajian keperawatan dalam fase darurat luka bakar berfokus pada prioritas utama bagi setiap pasien trauma dengan luka sebagai permasalahan sekunder. Penanganan aseptic luka bakar sebagai permasalahan sekunder. Penanganan aseptic luka bakar dan pemberian infuse yang invasive harus diteruskan.

Tanda-tanda vital harus diperiksa dengan sering.

Status respirasi dipantau dengan ketat. Denyut nadi apikal, carotid dan femoral dievaluasi. Pemantauan jantung merupakan indikasi jika pasien memiliki riwayat penyakit jantung, cedera listrik atau masalah respirasi, atau bilamana irama denyut nadinya terganggu, atau frekuensi nadinya abnormal lambat atau cepat.

Jika semua ekstremitas terbakar, pengukuran tekanan darah mungkin sulit dikerjakan. Balutan steril yang ditaruh di bawah manset tensimeter akan melindungi luka terhadap kemungkinan kontaminasi.

Karena bertambahnya edema membuat tekanan darah sulit diauskultasi, alat Doppler (ultrasound) atau tensimeter elektronik yang noninvasive dapat membantu.

Pada luka bakar yang berat, kateter arteri digunakan untuk mengukur tekanan darah dan mengambil specimen darah. Denyut nadi perifer pada ekstremitas yang terbakar harus diperiksa setiap jam sekali. Alat Doppler juga berguna untuk memantau denyut nadi perifer.

Selang-infus yang berdiameter besar dan kateter urin indwelling harus dipasang. Pengkajian perawat mencakup pemantauan asupan dan keluaran cairan. Haluaran urin yang merupakan indicator yang sangat baik untuk menunjukkan status sirkulasi harus dipantau dengan cermat dan diukur setiap satu jam.

Jumlah urin yang diperoleh pertama kali ketika kateter urin dipasang harus dicatat, karena data ini dapat membantu menentukan fungsi renal dan status cairan sebelum pasien mengalami luka bakar. Berat jenis urin; pH; dan kadar glukosa, aseton, protein serta nilai hemoglobin harus sering dinilai.

Warna urin yang kemerahan menunjukkan adanya hemokromogen dan mioglobin yang terjadi akibat kerusakan otot karena luka bakar yang dalam dengan disertai cedera listrik atau kontak yang lama dengan nyala api.

Glukosuria merupakan gejala yang sering ditemukan pada jam-jam pertama pasca luka bakar dan terjadi akibat pelepasan glukosa yang disimpan dari dalam hati sebagai respons terhadap stres.

Meskipun bukan merupakan informasi untuk menghitung kebutuhan cairan pasien, perawat harus mengetahui volume maksimal cairan yang harus diperoleh pasien.

Alat pompa infuse dan pengatur kecepatan infuse sangat berguna untuk melaksanakan terapi cairan yang rumit dengan benar menurut instruksi dokter. Pemantauan terapi cairan intravena merupakan tanggung jawab keperawatan yang utama.

Suhu tubuh, berat badan, riwayat berat pra-luka bakar, alergi, imunisasi tetanus, masalah medic serta bedah pada masa lalu, penyakit yang sekarang dan penggunaan obat harus dinilai. Penggkajian dari kepala hingga ujung kaki dilakukan dengan berfokus pada tanda-tanda dan gejala dari penyakit atau cedera yang menyertai atau komplikasi yang timbul.

Pengkajian terhadap luas luka bakar harus berkesinambungan dan difasilitasi dengan menggunakan diagram anatomic (yang sudah dijelaskan sebelumnya).

Di samping itu, perawat harus bekerja sama dengan dokter untuk mengkaji dalamnya luka bakar serta mengidentifikasi daerah-daerah luka bakar derajat dua dan tiga.

Pengkajian neurologik berfokus pada tingkat kesadaran pasien, status fisiologik, tingkat nyeri serta kecemasan, terhadap cedera serta penanganannya juga perlu dinilai.