Pengkajian dan Manifestasi Klinis serta Evaluasi Diagnostik Penyakit Rematik

https://www.infokeperawatan.comManifestasi klinis

Rasa nyeri merupakan gejala penyakit reumatik yang paling sering menyebabkan seseorang mencari pertolongan medis. Gejala yang sering lainnya mencakup pembengkakan sendi, gerakan yang terbatas, kekakuan, kelemahan dan perasaan mudah lelah.

Pengkajian

Pengkajian dimulai dengan anamnesis riwayat kesehatan secara umum yang mencakup awitan gejala dan bagaimana gejala tersebut berkembang, riwayat keluarga serta setiap factor contributor lainnya. Pemeriksaan ini diikuti oleh pemeriksaan fisik yang lengkap.

Karena banyak penyakit reumatik merupakan keadaan kronik, riwayat kesehatan harus juga mencakup informasi mengenai persepsi pasien terhadap masalah tersebut, terapi yang dijalani sebelumnya serta efektifitasnya, system dukungan pasien dan dasar pengetahuan pasien yang paling akhir serta sumber informasinya.

Pengkajian untuk penyakit reumatik menggabungkan pemeriksaan dokter dengan pengkajian fungsi. Inspeksi terhadap keadaan umum pasien dilakukan dalam pertemuan pertama.

Cara berjalan, sikap tubuh dan struktur serta ukuran musculoskeletal secara umum harus diamati. Deformitas dan abnormalitas gerakan yang nyata diperhatikan.

Kesetangkupan (simetri), ukuran dan garis bentuk jaringan ikat lainnya, seperti kulit serta jaringan adiposa, juga harus diperhatikan dan dicatat.

Pengkajian fungsional merupakan kombinasi anamnesis riwayat pasien (laporan pasien tentang apa yang dapat dan tidak dapat  dilakukannya) dan pemeriksaan (pengamatan terhadap aktifitas yang dapat atau tidak dapat dilakukan pasien, seperti berpakaian dan duduk serta bangkit dari kursi).

Pengamatan atau observasi juga mencakup adaptasi dan penyesuaian yang mungkin sudah dilakukan pasien (kadang-kadang tanpa disadari), misalnya menurunkan mulut kegarpu ketimbang mengangkat garpu ke mulut. Dalam lingkungan rumah sakit atau rumah, perawat sering dapat mengidentifikasi perubahan fungsional.

Evaluasi Diagnostik

Riwayat sakit dan data-data hasil pemeriksaan jasmani perlu dilengkapi dengan pemeriksaan diagnostic yang mendukung atau memastikan.

Pada sebagian kasus dilakukan pemeriksaan atau tes untuk mengikuti perjalanan penyakitnya. Sebagai contoh, laju endap darah (LED) mencerminkan aktifitas inflamasi dan secara tidak langsung progresivitas atau remisi penyakit.