Pendidikan Pasien untuk Pencegahan Anafilaksis

https://www.infokeperawatan.comPencegahan merupakan aspek tunggal yang terpenting dalam penatalaksanaan anafilaksis. Orang yang sensitive terhadap gigitan dan sengatan serangga, yang pernah mengalami reaksi terhadap makanan serta obat tertentu, dan yang pernah mengalami reaksi anafilaktik yang idiopatik atau yang ditimbulkan oleh latihan fisik harus selalu membawa kotak emergensi yang berisi epinefrin.

Epipen dari Center Laboratories merupakan alat pertolongan pertama yang dijual dipasaran dan dapat memberikan epinefrin dengan takaran 0,3 mg (Epipen) serta 0,15 mg (Epipen Jr) yang sudah diukur sebelumnya.

System penyuntikan sendiri ini tidak memerlukan persiapan dan tehnik pemberiannya juga tidak rumit. Perawat dapat mengajarkan kepada semua pasien risiko terjadinya reaksi anafilaktik yang berpotensi untuk menimbulkan kematian.

Pasien harus diberi kesempatan untuk memperagakan tehnik yang benar dalam menggunakan alat in; alat Epipen bagi pelatihan sudah tersedia dan dapat digunakan untuk membantu upaya ini.

Kepada pasien harus disampaikan informasi lisan dan tertulis mengenai kotak Emergensi disamping strategi untuk menghindari kontak dengan allergen yang dapat mengancam jiwa pasien yang alergi.

Anamnesis yang cermat mengenai riwayat setiap sensitivitas terhadap antigen yang dicurigai harus dilakukan sebelum memberikan obat apapun, khususnya dalam bentuk suntikan, kepada seorang pasien karena cara pemberian ini bisa diikuti dengan reaksi anafilaksis yang paling berat.

Pasien yang memiliki predisposisi untuk terjadinya reaksi anafilaksis harus mengenakan alat identifikasi yang berkaitan dengan alergi obat. Salah satu di antaranya adalah gelang Medic-Alert.

Pasien yang alergi terhadap bisa serangga mungkin memerlukan imunoterapi bisa yang digunakan sebagai terapi pengendalian dan bukan penyembuhan.

Pasien diabetes yang alergi insulin dan sensitive terhadap penisilin memerlukan desensitisasi. Desensitisasi dilakukan berdasarkan anafilaksis yang terkontrol dengan pelepasan mediator yang bertahap.

Pasien yang menjalani desensitisasi harus diingatkan agar dalam terapi ini tidak ada yang terlewatkan karena kelalaian tersebut dapat menyebabkan reaksi alergi timbul kembali ketika preparat tersebut diberikan lagi.