Penatalaksanaan Kelainan Folikuler

https://www.infokeperawatan.comPenatalaksanaan folikulitis, furunkel, karbunkel

Dalam penanganan infeksi stafilokokus, dinding-protektif indurasi yang melokalisasi infeksi tidak boleh ruptur. Karena itu, bisul atau jerawat tidak boleh sekali-kali dipijit.

Kelainan folikuler (folikulitis, furunkel, karbunkel) biasanya disebabkan oleh stafilokokus kendati jika terdapat gangguan pada sistem kekebalan, mikroorganisme penyebabnya bisa berupa baksil garam negatif.

Terapi antibiotik sistemik, yang dipilih berdasarkan pemeriksaan sensitivitas, umumnya diperlukan. Preparat oral kloksasilin, dikloksasilin dan flukloksasilin merupakan obat pilihan pertama. Sefalosporin dan eritomisin juga efektif.

Perawatan Suportif.

Pemberian cairan infus, kompresuntuk demam dan tindakan suportif lainnya diperlukan pada pasien-pasien yang sakitnya berat atau yang menderita toksisitas.

Kompres basah dan hangat akan meningkatkan vaskularisasi serta mempercepat kesembuhan furunkel atau karbunkel. Kulit di sekeliling lesi dapat dibersihkan secara hati-hati dengan sabun antibakteri dan kemudian diolesi dengan salep antibiotik.

Ekstraksi.

Kalau pus sudah terlokalisasi dan bersifat fluktuan (bergerak dengan gelombang yang dapat diraba), tindakan insisi kecil dengan skalpel akan mempercepat kesembuhan karena tegangan akan berkurang dan evakuasi pus serta jaringan nekrotik yang lepas terjadi secara langsung. Kepada pasien diberitahukan agar menjaga drainase lesi yang ditutupi dengan kasa.

Tindakan Anti-Infeksi.

Kasa yang sudah kotor harus ditangani dengan tindakan penjagaan yang universal. Petugas keperawatan harus mematuhi tindakan isolasi dengan seksama agar tidak menjadi karier stafilokokus. Sarung tangan disposabel harus dikenakan ketika merawat pasien-pasien ini.

Tindakan penjagaan yang khusus harus dilaksanakan dalam perawatan bisul didaerah wajah karena kulit di daerah tersebut mengalirkan darahnya langsung ke dalam sinus-sinus venosis kranialis. Trombosis sinus dengan piemia yang diketahui pernah terjadi setelah dilakukan manipulasi bisul di tempat ini.

Tirah baring dianjurkan bagi pasien yang menderita bisul di daerah perineum atau anus, dan terapi antibiotik sistemik diperlukan untuk mengendalikan penyebaran infeksi.