Penatalaksanaan dan Pertimbangan Keperawatan Bagi Artritis Reumatoid

https://www.infokeperawatan.comBagi artritis reumatoid erosif, moderat, suatu program formal dengan terapi okupasi dan fisioterapi harus diresepkan untuk mendidik pasien tentang prinsip-prinsip perlindungan sendi, pengaturan kecepatan dalam pelaksanaan aktivitas, penyederhanaan kerja, latihan gerak dan latihan untuk menguatkan otot-otot.

Pasien didorong untuk turut berpartisipasi aktif dalam program penatalaksanaan tersebut. Program medikasi dievaluasi ulang secara periodik, dan perubahan yang sesuai dapat dilakukan jika diperlukan.

Bagi artritis reumatoid erosif, persisten, bedah rekonstruksi dan terapi kortikosteroid kerapkali diresepkan. Bedah rekonstruksi merupakan indikasi kalau rasa nyeri tidak dapat diredakan oleh tindakan konservatif.

Prosedur bedah mencakup tindakan sinovektomi (eksisi membran sinovial), tenorafi (penjahitan tendon), atrodesis (operasi untuk menyatukan sendi) dan artroplasti (operasi untuk memperbaiki sendi). Namun demikian, operasi tidak dilakukan pada saat penyakit masih berada dalam stadium akut.

Pemberian kortikosteroid sistemik dilakukan jika pasien menderita inflamasi serta rasa nyeri yang tidak pernah sembuh, dan/atau pasien membutuhkan obat-obat  “yang menjembatangi” pada saat ia menantikan hasil kerja obat anti-reumatik yang kerjanya lambat (yaitu, preparat emas).

Tetapi kortikosteroid dengan dosis rendah dapat direkomendasikan dalam waktu terpendek yang diperlukan (untuk meminimalkan efek samping).

Persendian yang mengalami inflamasi yang berat dan tidak segera bereaksi terhadap tindakan seperti yang dijelaskan di atas dapat diobati dengan penyuntikan lokal kortikosteroid.

Bagi artritis reumatoid yang lanjut dan tidak pernah sembuh, obat-obat imunosupresi diresepkan mengingat kemampuannya untuk mempengaruhi produksi antibodi pada tingkat seluler.

Obat-obat ini mencakup preparat metotreksat dosis-tinggi, siklofosfamid dan azatioprin. Namun, obat-obat ini sangat toksik dan dapat menimbulkan depresi sumsum tulang, anemia, gangguang gastrointestinal serta ruam.

Plasmaferesis, limfoferesis dan iradiasi total limfoid merupakan prosedur eksperimental yang dikenalkan dalam tahun1970-an dan kini dianggap tidak atau hanya sedikit peranannya dalam penanganan penyakit reumatik, kecuali pada kasus-kasus akut yang mengancam jiwa penderitanya dan tidak menunjukkan respons terhadap terapi konvensioanl yang agresif.

Di seluruh stadium artritis reumatoid kerap kali mengalami anoreksia, penurunan berat badan dan anemia. Anamnesis riwayat diet akan mengenali kebiasaan makan dan kesenangan pasien terhadap makanan tertentu.

Kemudian kepada pasien diajarkan tentang cara memilih makanan yang mencakup kecukapan gizi tiap hari dari berbagai kelompok dasar makanan dengan menekankan kelompok makanan yang banyak mengandung vitamin, protein serta zat besi untuk pembangunan dan perbaikan jaringan.

Bagi pasien yang mengalami anoreksia berat dianjurkan untuk makan sedikt-sedikit tetapi sering dengan meningkatkan suplemen protein.

Beberapa obat (yaitu, kortikosteroidoral) yang digunakan dalam terapi artritis reumatoid akan menstimulasi selera makan dan kalau digabungkan dengan penurunan aktivitas, dapat menyebabkan kenaikan berat badan.

Pertimbangan keperawatan.

Asuhan keperawatan bagi penderita artritis reumatoid harus mengikuti rencana asuhan dasar. Masalah yang paling sering ditemukan pada penderita artritis reumatoid adalah rasa nyeri, gangguan tidur, keletihan dan gerakan yang terbatas.

Pasien yang baru saja didiagnosis artritis reumatoid akan memerlukan informasi mengenai penyakitnya itu sehingga ia mampu mengambil keputusan yang berkenaan dengan penatalaksanaan-mandiri setiap hari dan dapat mengatasi masalah yang timbul setelah menderita penyakit kronik.