Pemeriksaan Penunjang Untuk Diagnosis Penyakit Sifilis

Pemeriksaan T. Pallidum.PEMERIKSAAN PENUNJANG

Sebagai pembantu diagnosis ialah:

  1. Pemeriksaan T. Pallidum.
  2. Tes Serologik Sifilis (TSS).
  3. Pemeriksaan histopatologis.

 A. Pemeriksaan T. Pallidum.

1. Dark-Field microscopy.

Merupakan pemeriksaan pilihan untuk sifilis sekunder khususnya kondilomata lata dan mucous patches. Caranya lesi dibersihkan dengan salin steril 0,9% untuk mencegah sel darah terdeteksi sebagai treponema. Eksudat serosa diambil dari atas permukaan akumulasi dengan skalpel atau pipet. Eksudat ditetesi dengan 1 —2 tetes salin di atas glass slide. Slide selanjutnya diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat treponema pallidum.

  1. Direct Fluorescence Antibody Test.

Eksudat lesi yang berasal dari oral dan anal ditetesi dengan fluoresen immunoglobulie anti treponema pallidum lalu dilihat di bawah dark—field microscopic. Tes sensitifitas tersebut hingga 90%.

B. Tes Serologi Sifills (TSS)

Sebagai ukuran untuk mengevaluasi tes serologi ialah sensitivitas dan spesifisitas. Sensitivitas adalah kemampuan untuk bereaksi pada penyakit sifilis. Sedangkan spesifisitas berarti kemampuan nonreaktif pada penyakit bukan sifilis. Tes dengan spesifisitas yang tinggi sangat baik untuk diagnosis, sedangkan semakin tinggi sensitivitas suatu tes makin baik tes tersebut dipakai untuk tes screening.

Tes serologis sifilis dibagi berdasarkan antigen yang dipakai:

– Nontreponemal (reaginic tests).

– Treponemal.

1) Tes nontreponemal (reaginic tests)

Digunakan untuk memantau perkembangan pengobatan dan creening, tes ini tidak spesifik. Antigen yang digunakan merupakan kombinasi dari kardiopilin, kolesterol dan lesitin. Yang termasuk reagen nontreponemal adalah:

a Rapid Plasma Reagin (RPR).

  1. b.  Venerai Disease Reseach Laboratory(VDRL).

Veneral Disease Reseach Laboratory dan RPR memberikan reaksi setelah 4 hingga 5 minggu terinfeksi. Titer yang tinggi ‘(e” 1: 32) sebagai indikasi penyakit aktif. Jika dilakukan terapi terhadap sifilis primer dan sekunder (selama 6 bulan) dan sifiis laten (selama 24 bulan) maka titer akan turun dari 1: 32 ke 1:4 atau kurang. Negatif palsu sering timbul diawal infeksi atau pada sifilis laten.

Positif palsu dapat pula ditemukan pada keadaan di bawah ini:

– Fisiologis: kehamilan dan usia lanjut.

– Spirochete infectioa leptospirosis, rat-bite fever, pinta,yaws.

– Infeksi virus: cytomegalo virus, hepatitis, herpes simpleks, herpes zoster-varisela, mumps. measles, toksoplasmosis, viral sepsis dan HIV-1.

– Infeksi bakteri: pneumonia, lepromatous leprosy, limfogranuloma venerum, tuberkulosis.

– Infeksi protozoa: malaria, trypanosomiasis.

– Penyakit autoimun: polyarteritisnodosa, reumatoid artritis, systemic lupuserytematosus,  Idiopathic thrombocytopenic purpura.

Prosedur pemeriksaan VDRL:

1. Kualitatif.

Cara kerja:

a. Teteskan 1 tetes serum (50 ml) ke atas kartu tes, sebarkan serum sampai memenuhi lingkaran dengan memakai spatula.

b. Tambahkan 1 tetes antigen (50 ml).

c. Putar di atas rotator kurang lebih 8 menit.

d. Baca hasil:

– Jika terbentuk flokulasi berarti reaktif (+).

– Jika tidak terbentuk flokulasi berarti non reaktif (-).

2. Kuantitatif.

Cara kerja:

a. Dilakukan penipisan serum.

b. Dalam tabung reaksi kecil, masukkan 50 ml NaCl 0,9%, tambahkan 50 ml sampel, kocok sampai tercampur rata.

– Pada lobang I pengenceran ½.

– Pada lobang II pengenceran ¼.

– Pada lobang Ill pengenceran 1/8

  1. c.  Teteskan masing-masing 50 ml ke atas kartu tes dan kerjakan seperti cara kualitatif

d. Perhatikan flokulasi yang terjadi.

e. Pada pengenceran tertinggi terjadi flokulasi menandakan titer reaktif.

 Pemeriksaan Penunjang Untuk Diagnosis Penyakit Sifilis

  1. 2.  Tes Treponemal

Tes ini sangat baik digunakan setelah terinfeksi, sensitifitasnya 93% terhadap infeksi primer, 85% terhadap infeksi sekunder dan 64% terhadap infeksi laten dini.

 Pemeriksaan Penunjang Untuk Diagnosis Penyakit Sifilis

C. Pemeriksaan Histopatologi

1. Sifilis primer: ditemukan adanya infiltrasi perivaskuler, sel limfosit banyak, makrofag dengan proliferasi kapiler endotel.

2. Sifilis sekunder: pada epidermis ditemukan hiperkeratosis, proliferasi kapiler dan migrasi neutrofil polimorfonuklear. Ditemukan pula infiltrasi perivaskular sel monosit, sel plasma dan limfosit.

3. Sifilis tertier: ditemukan adanya inflamasi granuloma yang bagian tengahnya terdapat suatu koagulasi nekrotik yang mengandung makrofag palisade atau plump yang disekitarnya terdapat leukosit mononuklear dalam jumlah yang banyak. Ditemukan pula adanya ortitis yang menyebabkan inflamatory scarring pada tunika media.

Jika dilakukan pemeriksaan dengan mikroskop elektron dapat ditemukan adanya T.pallidum di ekstraseluler dalam jumlah yang banyak dan di intraseluler dalam jumlah yang sedikit.