Pemeriksaan Biopsi dan Darah serta Implikasi Diagnosis Penyakit Rematik

https://www.infokeperawatan.comBiopsy otot dilakukan untuk memeriksa otot skeletal. Prosedur tersebut dapat dikerjakan dalam kamar bedah dengan pembiusan umum.

Dengan pembedahan dilakukan insisi, specimen yang dikehendaki diambil dan kemudian dikirim ke laboratorium untuk menjalani analisis mikroskopik.

Prosedur perawatan luka dilakukan, dan ekstremitas yang menjalani tindakan biopsy ini dimobilisasi selama 12 hingga 24 jam. Biopsy otot berguna untuk menegakkan diagnosis miositis.

Biopsy arteri dapat dikerjakan untuk memeriksa specimen dinding arteri. Arteri yang paling sering dipilih adalah arteri temporalis, kendati pembuluh arteri lainnya dapat menjalani biopsy bila ada indikasinya.

Prosedur biopsy ini serupa dengan yang dilakukan untuk biopsy otot. Biopsy arteri sering dapat memastikan inflamasi pada dinding pembuluh darah atau arteritis yang merupakan salah satu bentuk vaskulitis.

Biopsy kulit dapat dilakukan untuk memastikan penyakit inflamasi jaringan ikat, seperti lupus eritematosus atau scleroderma. Specimen pemeriksaan dapat diperoleh dengan pengerokan yang ringan dari kulit pasien tanpa menimbulkan gangguan rasa nyaman. Biopsy kulit yang lebih dalam mungkin perlu dilaksanakankalau cara pengerokan tidak memadai.

Pemeriksaan darah

Secara umum, pemeriksaan laboratorium serum dalam bidang reumatologi didasarkan pada asumsi bahwa penyakit reumatik merupakan gangguan autoimun.

Meskipun banyak pemeriksaan ini bersifat sangat kompleks dan teknis, namun tidak ada satu pun diantaranya yang bila digunakan secara tersendiri sudah cukup untuk mendukung diagnosis suatu penyakit reumatik.

Dokter akan menentukan apakah pemeriksaan serum diperlukan dengan mendasarkannya pada gejala pasien, stadium penyakitnya, biaya pemeriksaan dan manfaat yang mungkin diperoleh dari pemeriksaan tersebut.

Implikasi diagnostic

Diagnosis suatu penyakit reumatik yang spesifik bisa secara relative bersifat sederhana dan jelas tetapi bisa pula tidak.

Umumnya observasi keluhan dan gejala klinik diperlukan pada setiap saat untuk membuat diagnosis. Pencegahan diagnosis memerlukan penggabungan hasil anamnesis riwayat sakit, hasil pemeriksaan fisik serta penunjang, dan manifestasi penyakit yang timbul kemudian yang memerlukan penjelasan serta interpretasi bagi penderita penyakit yang dini.

Kebenaran ini terutama terlihat pada mereka yang menderita penyakit reumatik multisistemik, seperti penyakit jaringan ikat.

Penemuan Kristal atau bakteri di dalam cairan synovial meerupakan petunjuk diagnostic yang khas masing-masing untuk penyakit gout atau arteritis infeksiosa.

Diagnosis mungkin lebih bersifat presumtif pada kasus pasien lanjut usia yang diperkirakan menderita osteoarthritis berdasarkan kelainan pada satu sendi, hasil pemeriksaan sinar-X yang menunjang dan tidak adanya bukti yang menunjukkan proses penyakit yang lain.

Banyak bentuk penyakit reumatik dapat didiagnosis secara akurat oleh dokter dalam pelayanan kesehatan primer atau puskesmas.

Pasien dengan keluhan dan gejala yang lebih rumit mungkin memerlukan rujukan ke dokter spesialis reumatologi (rheumatologist), yaitu dokter yang ahli dalam menegakan diagnosis dan mengobati penderita penyakit reumatik.

Penderita harus mengetahui tipe penyakit reumatik yang dideritanya dan bukan hanya mengetahui bahwa mereka menderita “radang sendi” atau “radang sendi lutut”.