Pemantauan dan Penatalaksanaan Pasien Bedah Rekonstruksi

https://www.infokeperawatan.comKomplikasi Potensial

Infeksi.

Infeksi sekunder merupakan persoalan pertama sesudah pembedahan rekonstruksi. Sumber infeksi akan bergantung pada lokasi dan luasnya prosedur pembedahan, garis jahitan dan flap pedikel.

Inpeksi mulut dilakukan untuk melihat lokasi jahitan sehingga daerah ini tidak terganggu tanpa disengaja dalam proses pembersihan.

Mulut dibersihkan sesuai dengan protokol beberapa kali sehari. Bekuan darah yang lepas dapat dikeluarkan dengan mengusapnya secara hati-hati.

Kepada pasien disarankan agar tidak melepaskan bekuan dengan lidahnya karena dapat terjadi perdarahan yang baru. Pasien juga diminta agar tidak menggunakan jari tangannya untuk membersihkan atau mengeluarkan bekuan darah karena perbuatan ini dapat mengundang mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi.

Garis jahitan akan terengang selama beberapa hari sesudah pembedahan karena terjadinya edema, peningkatan drainase dan pembentukan hematoma.

Perawat harus memeriksa garis jahitan dengan seksama untuk mendeteksi tanda-tanda peningkatan tegangan dari infeksi (suhu yang naik, edema yang bertambah, kemerahan, pendarahan serta peningkatan rasa nyeri).

Kasa pembalut mungkin perlu diganti berkali-kali dalam sehari sampai cairan drainase dan edeman di inspeksi sesudah pembedahan rekonstruksi; walaupun demikian kedua gejala ini harus berkurang dan prosesnya akan dipercepat jika kita menggunakan alat pengisap yang bekerja dengan baik dalam posisi pemasangan yang tepat dan menaikkan bagian kepala tempat tidur dengan sudut sekitar 45 derajat.

Perawat harus memeriksa setiap peralatan pengisap,   menggosokkannya dengan segera dan mencatat jumlah serta konsistensi cairan darinase di samping bau cairan drainase yang tidak lazim.

Jika drainase tidak dilepas atau kasa pembalut yang sudah basah dibiarkan tanpa diganti dalam waktu yang lama, kemungkinan besar infeksi akan terjadi. Tindakan aseptik yang ketat harus selalu dilaksanakan selama perawatan luka.

Jika flap pesikel digunakan dalam pembedahan rekonstruksi, pembedahan sendiri dapat menjadi sumber infeksi bila sirkulasi darahnya terganggu.

Sirkulasi yang jelek dapat terjadi akibat hematoma yang terbentuk di bawah flap dan menyebabkan peningkatan tekanan pada vaskulatur yang ada dibawahnya.

Perawat harus menginspeksi flap untuk mengamati perubahan warna dan suhu yang menunjukkan sirkulasi darah yang buruk.

Tanda-tanda nekrosis, bertambahnya cairan dan bau merupakan petunjuk lebi lanjut yang mengingatkan perawat terhadap keberadaan infeksi dan harus segera dilaporkan pada dokter.

Penyuluhan prabedah untuk mempertegas informasi mengenai proses kesembuhan luka, perlunya teknik perawatan luka yang aseptik, higiene perorang yang baik, dan perlunya membatasi gerakan serta sters didaerah operasi merupakan bagian penting dari peranan perawat dalam melaksanakan perawatan pascabedah serta pencegahan infeksi sekunder.