Patofisiologi Osteoartritis

https://www.infokeperawatan.comOsteoartritis dapat dianggap sebagai hasil akhir banyak proses patologi yang menyatu menjadi suatu predisposisi penyakit yang menyeluruh.

Osteoartritis mengenai kartilago artikuler, tulang subkondrium (lempeng tulang yang menyangga kartilago artikuler) serta sinovium, dan menyebabkan keadaan campuran dari proses degradasi, inflamasi serta perbaikan.

Proses degeneratif dasar dalam sendi sudah di jelaskan sebelumnya dan di contohkan pada osteoartritis. Pemahaman terhadap osteoartritis telaah berkembang luas hingga sudah berada di luar pandangan bahwa penyakit tersebut hanya semata-mata proses “aus akibat pemakaian” yang berhubungan dengan penuaan.

Faktor risiko bagi osteoartritis mencakup usia, jenis kelamin wanita, predisposisi genetik, obesitas, stres mekanis sendi, trauma sendi, kelainan sendi atau tulang yang dialami sebelumnya, dan riwayat penyakit inflamasi, endokrin serta metabolik.

Unsur herediter osteoartritis yang dikenal sebagai nodal generalized osteoarthritis (yang mengenai tiga atau lebih kelompok sendi) telah dikonfirmasikan. Tipe osteoartritis ini meliputi proses inflamasi primer.

Wanita pascamenopause dalam keluarga yang sama ternyata memiliki tipe osteoartritis pada tangan yang ditandai dengan timbulnya nodus pada sendi interfalang distal dan sendi interfalang proksimal tangan.

Gangguan kongenital dan perkembangan pada koksa sudah diketahui benar sebagai predisposisi dalam diri seseorang untuk mengalami osteoartritis koksa.

Gangguan ini mencakup subluksasi dislokasi kongenital sendi koksa, displasia asetabulum, penyakit Legg-Calve-Perthes dan pergeseran epifise kaput femoris.

Obesitas memiliki kaitan dengan osteoartritis sendi lutut pada wanita. Meskipun keadaan ini mungkin terjadi akibat stres mekanis tambahan dan ketidaksejajaran (misalignment) sendi lutut terhadap bagian tubuh lainnya karena diameter paha, namun obesitas dapat memberikan efek metabolik langsung pada kartilago.

Secara mekanis, obesitas dianggap meningkatkan gaya yang melintas sendi dan karena itu menyebabkan degenerasi kartilago. Teori faktor metabolik menunjukkan adanya hormon atau mediator biologik yang berkaitan dengan dan menyebabkan osteoartritis.

Obesitas akan disertai peningkatan massa tulang  subkondrium yang dapat menimbulkan kekakuan tulang sehingga tulang subkondrium menjadi kurang lentur terhadap dampak beban muatan yang akan mentransmisikan lebih besar gaya pada kartilago artikuler yang melapisi di atasnya dan dengan demikian membuat tulang tersebut lebih rentan terhadap cedera.

Wanita yang obese ternyata memiliki insidensi osteoartritis lutut hampir empat kali lipat dari pada wanita dengan berat badan rata-rata.

Pertanyaan yang timbul adalah apakah obesitas itu mendahului osteoartritis ataukah merupakan akibat dari gaya hidup menoton yang diadopsi oleh sejumlah pasien dengan gejala osteoartritis; beberapa penilitian yang dilakukan baru-baru ini menunjukkan hal yang pertama.

Demikian pula terlihat bahwa osteoartritis yang terjadi dalam usia dewasa—pada usia ini, sebenarnya osteoartritis sangat jarang dijumpai –akan meningkatkan risiko terjadinya osteoartritis di kemudian hari pada sendi lutut.

Penurunan berat dalam usia pertengahan atau sesudah itu tampaknya dapat menurunkan risiko untuk terjadinya osteoartritis pada sendi lutut. Penurunan berat dalam usia pertengahan atau sesudah itu tampaknya dapat menurunkan risiko untuk terjadinya osteoartritis pada sendi lutut.

Gambaran ini tampaknya lebih berlaku pada wanita ketimbang pada laki-laki di mana cedera lutut merupakan unsur penyebab yang lebih penting.

Jadi, pencegahan atau penanganan obesitas mungkin merupakan faktor yang penting dalam mencegah terjadinya osteoartritis pada sendi lutut.

Faktor-faktor mekanis seperti trauma sendi, aktivitas olahraga dan pekerjaan juga turut terlibat. Faktor-faktor ini mencakup kerusakan pada ligamentum krusiatum dan robekan meniskus, aktivitas fisik yang berat dan kebiasaan sering berlutut.