Multiple Trauma

Kecelakaan lalu lintas sering mengakibatkan trauma dan kita harus waspada kemungkinan multiple trauma yang akan mengakibatkan multiple fraktur dan trauma organ lain seperti kepala, thoraks,organ indra dan pembuluh darah besar. Kecelakan dapat terjadi tanpa diketahui oleh seseorang kapan ada dan dimana berada. Pada kasus dengan cidera berat, sering menimbulkan kematian dan kecacatan, baik akibat pertolongan yang kurang cepat atau kurang benar. Penderita cedera berat harus mendapatkan pertolongan yang secara cepat dan benar, secepatnya dibawa kerumah sakit yang mempunyai prasarana dan pasilitas yang memadai. Sekitar 80% dari penderita trauma mengenai sistem muskulo skeletal. 50% pasein gawat darurat meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit dan di rumah sakit.

Pada pasien trauma:
• 50% meninggal pada saat kejadian atau beberapa menit setelah kejadian kerna distruksi otak dan CNS,jantung aorta dan pembuluh besar lainnya
• 35% meninggal 1-2 jam setelah trauma (the golden hour). Data kematian disebabkan karena:
– Trauma kepla berat (hemtoma subdural dan epidural)
– trauma toraks (hematoma toraks danpeneumotoraks)
– trauma abdomen (ruptur limpha dan laserasi hati )
– fraktur femur dan pelvis karena pendarahan massif
– trauma multiple dan pendarahan.

Pencegahan kematian dilakukan pada 1-2 jam dini, dimana harus tidak agresif. Angka kematian trauma di tentukan pada fase ini, 15% meninggal akibat:
– mati otak
– gagal organ
– sepsis

Jadi pada umumnya suvival pasien ditentukan oleh:
– Siapa yang pertama kali menolong pasien
– Kuaalitas ambulans dan personal ambulans
– Pasien dibawa ke IGD yang mampu menanggulangi beratnya kasus yang bersangkutan
– Kalau IGD bersangkutan tidak mampu, maka stabilitas yang cepat dan segera dirujuk ke RS dengan fasilitas IGD yang lebih canggih akan dapat menyelamatkan nyawa pasien.

PRINSIP PENANGGULANGAN
Penanggulangan pasien trauma harus di lihat bahwa:
• Tergantungnya jalan nafas dapat menyebabkan kematian lebih cepat dari pada ketidak mampuan bernafas.
• Ketidak mampuan bernafas dapat menyebabkan kematian lebih cepat dari pada kehilangan darah
• Pendarahan intrakranial adalah keadaan letal yang berikutnya.
Seorang dokter yang menangani kasus trauma harus:
• Mengerti prinsip dan mampu melakukan “primary survey” dan “secondary survey”.
• Mampu melakukan resusitasi dan terapi difinitif yang perlu dalam 1-2 jam pertama setelah trauma.
• Mampu mengidentifikasi pasien, mana harus dirujuk dan melakukan rujukan.
• Mengenal dan mampu bekerja sesuai protokol bencana pada keadan bencana
• Selain itu harus mengerti dan mampu melakukan intubasi oro dan nasotrakheal pada orang dewasa maupaun anak kecil/bayi.
• Mampu menentukan dan melakukan cricotiorodotomi
• Memberikan infus cairan intra vena yang adekuat.
• Memasang infus dan CVP dan memonitornya
• “venous Cutdwon”
• memasang infasi,deflasi (mengempiskan) dan melepas MAST.
• Mampu torakosentesis dan memasang WSD serta memonotor / evaluasinya.
• Mampu perikordienesis .
• Mampu laase peritoneal.
• Mampu mengidentifikasi eidera vertebra sevikal pada pemeriksaan maupun X-ray
• Mampu imobilisasi vertebra servikal dan torako lumbal dan imobilisasi tungkai.

Karena penanggulangan pasien trauma sangat tergantung kepada waktu kecepatan bekerja, maka harus dapat bekerja sesuai urutan tindakan yang berlaku, yaitu :
• Kesiap-siagaan
• Triage
• Primary survey
• Resusitasi
• Secondary survey dari kepala sampai ujung kaki
• Memonitor dan evaluasi yang berkelanjutan.