Mengkaji Kuku dan Psikososial Pasien

https://www.infokeperawatan.comPengkajian Kuku.

Inspeksi singkat pada kuku mencakup observasi untuk melihat konfigurasi, warna dan konsistensi. Banyak perubahan pada kuku atau dasar kuku (nailbed) yang mencerminkan kelainan lokal atau sistemik yang sedang berlangsung atau yang terjadi akibat peristiwa di masa lalu.

Alur transversal yang dinamakan garis-garis Beau pada kuku dapat mencerminkan retardasi pertumbuhan matriks kuku yang terjadi sekunder akibat sakit yang berat atau yang lebih sering lagi akibat trauma lokal. Penonjolan, hipertrofi dan berbagai perubahan lainnya dapat pula terjadi pada trauma lokal.

Paronikia, suatu inflamasi kulit di sekitar kuku, biasanya akan disertai gejala nyeri tekan dan eritema. Sudut antara kuku yang normal dan pangkalnya (basis unguium) adalah 160 derajat. Ketika dipalpasi, pangkal kuku biasanya teraba keras.

Clubbing (jari tabuh) terlihat sebagai pelurusan sudut yang normal (menjadi 180o atau lebih) dan pelunakan pada pangkal kuku. Pelunakan ini akan terasa seperti spons ketikan dipalpasi.

Pengkajian Terhadap Masalah Psikososial

Karena pasien kelainan kulit (1 diantara 20 penderita) dapat melihat dan merasakan masalah, mereka lebih cenderung untuk terganggu oleh penyakitnya ketimbang penderita gangguan lain. Kelainan kulit dapat menimbulkan masalah kosmetik, isolasi sosial, kehilangan pekerjaan dan persoalan ekonomi.

Beberapa kelainan kulit dapat membuat pasiennya menderita sakit yang berkepanjangan sehingga timbul perasaan depresi, frustasi, kesadaran diri dan penolakan.

Gatal-gatal serta iritasi kulit juga dapat terus mengganggu dan sering dijumpai pada sebagian besar penyakit kulit. Kosekuensi dari gangguan rasa nyaman ini dapat berupa gangguan tidur, ansietas dan depresi keseluruhannya akan meningkatkan distres serta keletihan yang sering menyertai kelainan kulit.

Di samping itu, penyakit kulit kerapkali menimbulkan keprihatinan yang berhubungan dengan citra-diri dan hubungan interpersonal.

Bagi pasien-pasien yang menderita ketidaknyamanan fisik dan psikologis semacam ini, perawat harus memperlihatkan pengertiannya, menjelaskan masalah dan memberikan instruksi yang tepat berkenaan dengan pengobatan, dukungan keperawatan, kesabaran serta dorongan semangat yang kontinyu.

Diperlukan waktu untuk membantu pasien mendapatkan wawasan terhadap masalahnya dan mengatasi kesulitannya. Karena itu, mengatasi timbulnya keengganan yang mungkin terasa  ketika merawat penderita kelainan kulit yang tidak atraktif tersebut merupakan hal yang mengesankan.

Perawat tidak boleh memberikan kesan ragu-ragu ketika melakukan pendekatan pada penderita kelainan kulit. Perilaku semacam ini hanya akan menambah trauma psikologik dari kelainan tersebut.