Mengkaji dan Mendiagnosis Gangguan Alergi

https://www.infokeperawatan.comRiwayat alergi dan pemeriksaan jasmani

Anamnesis riwayat alergi yang komprehensif dan pemeriksaan jasmani yang seksama akan menghasilkan data-data yang berguna bagi penegakan diagnosis dan penatalaksanaan penderita gangguan alergik. Lembar penilaian berguna untuk mendapatkan dan mengelola informasi ini.

Derajat kesulitan serta ketidaknyamanan yang dialami oleh pasien karena gejala alergik, dan derajat perbaikan gejala dengan atau tanpa terapi harus dinilai serta dicatat. Hubungan antara gejala dan kontak dengan allergen yang mungkin menyebabkan perlu perhatian.

Tes diagnostic

Pengkajian pasien gangguan alergik umumnya mencakup pemeriksaan darah, sediaan apus sekresi tubuh, tes kulit  dan RAST (radioallergossorbent test).

Hasil pemeriksaan darah laboratorium akan memberikan data-data suportif untuk berbagai kemungkinan diagnosis; kendati demikian , hasil laboratorium bukan criteria utama bagi penegakan diagnosis gangguan alergik. Pemeriksaan awal dapat mencakup pemeriksaan berikut ini:

Hitung darah lengkap dengan hitung jenis.

Hitung sel darah putih biasanya normal kecuali dalam keadaan infeksi. Eosinofil dalam keadaan normal merupakan 1% hingga 3% dari jumlah total sel darah putih. Tingkat antara 5% dan 15% adalah nonspesifik tetapi benar-benar menunjukkan reaksi alergik.

Eosinofilia sedang

15% hingga 40% leukosit dalam darah sebagai eosinofil ditemukan pada pasien gangguan alergik disamping pasien gangguan malignitas, imunodefisiensi, infeksi parasit, penyakit jantung congenital dan pada pasien-pasien yang menjalani dialysis peritoneal.

Eosinofilia berat

50% hingga 90% leukosit dalam darah sebagai eosinfil ditemukan pada pasien sindrom hipereosinofilia idiopatik.

Jumlah total eosinofil

Hitung eosinofil yang akurat dapat dilakukan dengan menggunakan cairan pengencer khusus yang menimbulkan hemolisis eritrosit dan mewarnai sel-sel eosinofil

Pemeriksaan apus eosinofil

Selama episode simtomatik , sekresi nasal, sekresi konjungtiva, dan sputum dari pasien-pasien atopic biasanya mengungkapkan sel-sel eosinofil yang menunjukkan reaksi alergi aktif.

Kadar total serum IgE

Kadar total serum IgE yang tinggi mendukung diagnosis penyakit atopic; kendati demikian, kadar IgE yang normal tidak menyingkirkan kemungkinan diagnosis gangguan alergi.

Kadar IgE tidak sesensitif pemeriksaan PRIST (paper radioimmunosorbent test) dan ELISA (enzyme linked immunosorbent assay). Perangkat komersial sudah tersedia untuk pengukuran IgE. Indikasi pemeriksaan kadar IgE mencakup:

  • Evaluasi imunodefisiensi
  • Evaluasi reaksi obat
  • Pemeriksaan skrining laboratorium awal untuk aspergilosis bronkopulmoner alergika.
  • Evaluasi alergi diantara anak-anak yang menderita bronkiolitis
  • Diferensiasi, eczema atopic dan non atopic
  • Diferensiasi asma dan rhinitis atopic dan nonatopik