Masalah dan Penanganan Psikologis Perawat Pasien HIV

https://www.infokeperawatan.comMasalah emosi dan etis bagi perawat

Perawat dari segala bidang pekerjaan dapat diminta untuk memberikan perawatan kepada penderita infeksi HIV. Dalam melaksanakan perawatan, mereka bukan saja menghadapi tantangan fisik penyakit yang bersifat epidemic ini tetapi juga masalah emosi dan etis.

Kekhawatiran yang dikemukakan oleh para professional kesehatan meliputi persoalan seperti perasaan takut tertular, pertanggung jawaban untuk memberikan perawatan, penghargaan terhadap klarifikasi, kerahasiaan atau konfidensialitas, tahap perkembangan pasien serta orang yang merawatnya, dan prognosis penyakit yang buruk.

Banyak penderita infeksi HIV sudah terikat dalam perilaku yang “terstigmatisasi”. Karena perilaku ini berlawanan dengan nilai-nilai agama yang tradisional dan nilai-nilai moral, perawat dapat memiliki keengganan untuk memberikan asuhan keperawatan bagi pasien-pasien ini.

Disamping itu, para petugas kesehatan mungkin masih mempunyai perasaan takut dan cemas terhadap kemungkinan tertular penyakit tersebut kendati kepada mereka sudah diberikan penyuluhan tentang pengendalian infeksi dan rendahnya insidensi penularan pada petugas kesehatan.

Perawat dianjurkan untuk memeriksa kepercayaan dirinya dan menggunakan proses klarifikasi nilai untuk mendekati persoalan yang controversial.

The American Nursesassociation’s code untuk perawat dapat pula digunakan untuk memecahkan dilema etis yang bisa mempengaruhi kualitas keperawatan yang diberikan kepada penderita infeksi HIV.

Perawat bertanggung  jawab untuk melindungi hak-hak pasien atas privasinya dengan menjaga kerahasiaan informasi yang konfidensial.

Pengungkapan informasi pasien yang konfedensial karena perbuatan perawat yang kurang hati-hati dapat menimbulkan kesulitan personal, financial dan emosional bagi orang yang terinfeksi HIV itu.

Kontroversi diseputar kerahasiaan atau konfedensialitas melibatkan pengenalan terhadap berbagai keadaan ketika informasi dapat diungkapkan kepada orang lain.

Para anggota tim perawatan kesehatan memerlukan perawatan yang akurat sebelum mereka dapat melaksanakan penilaian, perencanaan, implementasi dan evaluasi terhadap asuhan keperawatan. Ketidak berhasilan dalam mengungkapkan status HIV dapat mengganggu kualitas perawatan pasien.

Pasangan seksual pasien yang terinfeksi HIV harus mengetahui potensi untuk terjadinya infeksi dan pentingnya pelaksanaan praktik seksual yang lebih aman disamping pentingnya pemeriksaan serta asuhan medis.

Perawat dianjurkan untuk membicarakan persoalan konfidensial dengan administrator perawat dan dokter untuk mengidentifikasi rangkaian tindakan yang lebih cepat.

Penyakit AIDS memiliki angka mortalitas yang tinggi. Sebagian besar perawat tidak pernah mengalami suatu wabah dimana hampir semua pasien menderita sakit yang serius dan meninggal dalam waktu yang relative singkat.

Perawat mungkin bergulat dengan nilai dan makna peranan professional mereka ketika berkali-kali menyaksikan kasus yang tidak bisa disembuhkan.

Kontak dengan begitu banyak kematian pada suatu populasi yang berada dalam stadium perkembangan yang sama dapat menimbulkan perasaan stress pada banyak perawat.

Masalah yang turut menimbulkan stress ini adalah ketakutan perawat jangan-jangan dirinya akan tertular infeksi HIV atau ketidak setujuannya terhadap gaya hidup serta perilaku pasien HIV.

Berbeda dengan  kanker atau penyakit lain, penyakit AIDS disertai kontroversi yang merupakan tantangan bagi system hukum dan politik kita disamping bagi keyakinan agama  dan pribadi.

Perawat yang merasa stress dan menanggung beban mental yang terlalu berat dapat mengalami stress fisik serta mental dalam bentuk keluhan mudah lelah, sakit kepala, perubahan pola makan serta tidur, perasaan tidak berdaya, mudah tersinggung, apatis, negativitas dan amarah.

Banyak strategi sudah digunakan oleh perawat untuk mengatasi stress yang berkaitan dengan perawatan pasien-pasien AIDS. Penyuluhan serta penyampaian informasi yang paling akhir dapat membantu mengurangi kekhawatiran dan mempersiapkan perawat dalam melaksanakan perawatan pasien yang aman serta berkualitas.

Pertemuan antara berbagai disiplin memungkinkan para peserta untuk saling memberikan dukungan dan tetap melaksanakan asuhan pasien yang paripurna.

Kelompok-kelompok pendukung staf perawatan akan memberikan kesempatan bagi perawat untuk memecahkan persoalan dan menggali nilai-nilai serta perasaan yang berkenaan dengan perawatan pasien AIDS dan keluarganya; mereka juga menyediakan forum untuk mengungkapkan kesusahan.

Sumber-sumber dukungan lainnya mencakup administrator keperawatan, teman-teman  sekerja atau seusia dan para pemimpin agama.