Keperawatan Pasien HIV dalam Interakasi Sosial

https://www.infokeperawatan.comPasien-pasien AIDS mengahadapi risiko untuk mengalami stigmatisasi ganda. Mereka akan dipandang oleh masyarakat sebagai penderita “penyakit yang mengerikan”, dan mereka juga memiliki cara hidup yang berbeda dengan yang dianggap dapat diterima oleh banyak orang.

Kebanyakan penderita AIDS merupakan dewasa muda dalam tahap perkembangan yang biasanya berkaitan dengan penegakan hubungan yang intim dan tujuan karier serta pribadi dan akan mempunyai anak serta membesarkannya.

Focus perhatian ini akan berubah jika mereka dihadapkan pada suatu penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan membatasi harapan hidup mereka.

Disamping itu, penderita AIDS mungkin terpaksa untuk mengungkapkan cara hidup atau perilaku yang tadinya disembunyikan kepada keluarga, sahabat, teman sekerja dan petugas kesehatan yang merawatnya.

Sebagai akibatnya, penderita infeksi HIV dapat terus diselubungi oleh emosi seperti rasa bersalah, cemas, malu dan takut. Mereka juga akan dihadapkan pada berbagai kehilangan, seperti penolakan oleh keluarga serta sahabatnya, dan kehilangan  pasangan seksual, keluarga serta sahabat; jaminan financial; peranan serta fungsi yang normal; kepercayaan diri; privasi; kemampuan untuk mengendalikan berbagai fungsi tubuh; dan fungsi seksual.

Sebagian pasien mungkin tenggelam dalam perasaan bersalah karena gaya hidup yang dipilihnya atau karena kemungkinan untuk menularkan penyakitnya kepada orang lain yang pernah atau sedang menjalin hubungan dengannya.

Sebagian pasien lain mungkin merasa gusar pada pasangan seksualnya yang menularkan virus tersebut. Tindakan pengendalian infeksi yang dilakukan dirumah sakit atau dirumah selanjutnya dapat turut memberikan kontribusi atas emosi pasien yang merasa disingkirkan. Setiap atau semua stressor ini dapat membuat penderita AIDS menarik diri baik secara fisik maupun emosional dari kontak social.

Perawat berada dalam posisi kunci untuk menciptakan suasana penerimaan dan pemahaman terhadap penderita AIDS dan keluarga serta pasangannya.

Tingkat interaksi social pasien yang lazim harus dinilai seawall mungkin untuk memberikan data dasar bagi pemantauan berbagai perubahan perilaku yang menunjukkan pengisolasian social (mis. Penurunan interaksi dengan staf atau keluarga, permusuhan, ketidak patuhan).

Pasien dianjurkan untuk mengekspresikan perasaan terisolasi serta kesepiannya, dan perawat harus menentramkannya dengan menjelaskan bahwa semua perasaan ini merupakan hal yang lazim serta normal.

Pemberian informasi tentang cara melindungi diri sendiri serta orang lain dapat membantu pasien agar tidak menghindari kontak social. Pasien, keluarga dan sahabatnya harus mendapatkan kepastian bahwa penyakit AIDS tidak ditularkan lewat kontak biasa.

Pendidikan bagi petugas rumah sakit, perawat dan dokter akan membantu mengurangi factor-faktor yang dapat turut membuat pasien merasa terisolasi.

Pertemuan mengenai perawatan pasien yang membicarakan masalah psikososial yang berkaitan dengan pasien penyakit AIDS dapat membantu perawat menjadi lebih peka terhadap kebutuhan pasien.