Keperawatan Infeksi HIV

https://www.infokeperawatan.comBanyak pederita infeksi HIV pernah mendengar pesan-pesan kesehatan masyarakat mengenai keseriusan penyakit tersebut dan pandangan yang pesimistik tentang prognosisnya.

Perawat harus turut membagikan pesan-pesan harapan dan memberikan penyuluhan kepada wanita tentang intervensi dini yang tersedia bagi mereka agar mereka dapat memperbaiki kuantitas maupun kualitas hidupnya.

Banyak wanita yang menderita AIDS atau infeksi HIV memilki riwayat diri sebagai pemakai obat-bius. Jadi, kesadaran yang lebih besar diperlukan untuk mengetahui sumber-sumber yang dapat membantu wanita dalam menghentikan pemakaian obat dan mendapatkan alat suntik yang bersih sampai mereka bersama-sama pasangannya dapat menjalani program rehabilitasi obat-bius, perawat dapat membantu mengurangi stigma publik dari penyakit AIDS lewat model peran dan advokasi.

Penyusunan kebijakan dan pendidkan kesehatan masyarakat dengan mengikut sertakan keprihatinan wanita merupakan hal yang penting.

Para peneliti memeriksa makna sosial dan budaya yang diberikan pasien kepada pegalaman sakitnya. Asumsi mereka bahwa makna ini merupakan faktor yang penting dalam menentukan pilihan dan memandang efikasi perawatan, praktik perawatan-mandiri serta kepatuhan terhadap rejimen terapi.

Model self-explanatory digunakan dengan menanyakan tujuh pertanyaan kepada kelompok sampel yang terdiri atas 59 penderita artritis reumatoid: menurut pemikiran anda, apa yang menyebabkan masalah anda? Mengapa anda berpikir masalah itu dimulai ketika terjadi? Apa makna sakit anda bagi diri anda sendiri? Bagaimana keparahannya? Apakah anda mengkhawatirkan sakit anda? Permasalahan utama apakah yang ditimbulkan oleh sakit anda bagi diri anda? Hasil penting apakah yang anda harapkan akan diperoleh dari terapi yang anda jalani?

Dalam penelitian ini, kepercayaan nontradisional tidak turut menyusun kategori utama respon terhadap etiologi dan onset penyakit. Enam puluh empat persen responden (yang mencakup semua laki-laki dalam penelitian ini) menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui penyebab penyakit yang mereka derita. Tiga puluh satu persen peserta penelitian merasa bahwa stres merupakan faktor penyebab.

Masalah utama diidentifikasi sebagai gangguan fungsional (80%), perubahan peranan (67%), rasa nyeri (53%), keadaan mudah lelah (43%),  dan efek psikologi (25%).

Ekspektasi responden adalah sama untuk peredaan rasa nyeri (25%) dan perbaikan fungsi (25%), dengan memperlihatkan sedikitnya pengetahuan yang realistis mengenai kondisi dari mereka, dan berharap bahwa penyakit mereka akan sembuh.

Ketakutan yang paling sering ditemukan adalah inkapasitas (68%) yang mencakup ketergantungan mereka pada orang lain dan keharusan untuk menggunakan kursi roda.

Para perawat mungkin tidak menyadari perbedaan antara pandangan mereka dan pandangan pasien-pasien mereka. Penulis mendesak agar mereka memfokuskan perhatian kepada persepsi pasien tentang pengalaman sakit dan bukan hanya kepada proses fisiologik.

Hasil-hasil penelitian memperlihatkan meskipun penemuan penyebab sangat penting bagi profesional kesehatan, namun masalah tersebut tidak begitu relevan bagi pasien yang terutam tertarik pada perbaikan segera setelah terapi.

Ekspektasi atau harapan pasien terhadap terapi merupakan hal yang bersifat praktis dan mencakup perbaikan fungsi serta stabilisasi kondisinya.

Informasi yang disampaikan oleh penelitian ini dapat membantu perawat untuk lebih memahami pasien-pasien mereka dan berkomunikasi dengan mereka.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan prevalensi keletihan, memeriksa kaitan antara keadaan mudah lelah dan kunjungan dokter, dan mengidentifikasi korelasi keadaan mudah keleihan pada artritis reumatoid.

Seratus tiga puluh tiga persen pasien turut berpartisipasi dalam penelitian ini yang menggunakan lebih dari satu macam instrumen untuk menangani berbagai variabel penelitian.

Keadaan mudah lelah dengan derajat yang tinggi dilaporkan rata-rata terjadi setiap hari, selalu terdapat (konstan) selama seminggu dan paling sering timbul ketika berjalan serta mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Ketika mengendalikan beratnya penyakit dan cakupan ansuransi, responden yang melaporkan tingkat kelelahan yanh lebih tinggi ternyata lebih sering mengunjungi dokter spesialis reumatologi daripada responden yang kurang melaporkan kelelahan.

Variabel berikut ini menjelaskan jumlah varian yang signifikan dalam menentukan angka keletihan, yaitu angka nyeri (pain ranting), status fungsional, kualitas tidur, jenis kelamin wanita, keadaan ko-morbid dan lamanya penyakit.

Keterbatasan pada penelitian ini mencakup kurangnya pengendalian terhadap keadaan mudah lelah yang berkaitan dengan penyelesaian pengisian kuesioner.

Keadaan mudah lelah dapat bertambah ketika pengisian kuesioner diselesaikan sehingga merupakan faktor yang turut mempengaruhi (cofounding facktor) bagi tindakan yang diselesaikan paling akhir. Data-data normatif tidak tersedia.

Implikasi Keperawatan. Mengingat sifat kelethan yang multidimensional, pengkajian keperawatan harus mengikutsertakan intensitas keletihan, distres, dampak dan waktu, Masalah nyeri, tidur, kondisi medik lainnya, status fisiologik, inaktivitas fisik dan faktor-faktor lain yang oleh pasien diperkirakan berpengaruh pada kelelahannya harus pula dieksplorasi.

Strategi untuk mengurangi keadaan mudah lelah mencakup penatalaksanaan nyeri, penggalakan tidur, program aktivitas serta latihan fisik, dan perbaikan status fungsional. Perbaikan atau penghilangan satu masalah dapat menghasilkan perbaikan pada parameter yang lain.