Mempertahankan Fungsi Paru Pasien Rekonstruksi Fasial

https://www.infokeperawatan.comMempertahankan Fungsi Paru dan Saluran Napas.

Masalah pascabedah yang timbul segera sesudah rekonstruksi fasial adalah pemeliharaan saluran napas yang adekuat. Jika pasien sudah sadar kembali, kekacauan mental dengan perilaku agitatif dan cemas merupakan tanda anoksia (berkurangnya suplai oksigen pada jaringan).

Preparat sedatif atau opioid tidak boleh diberikan pada keadaan ini karena dapat oksigenasi. Bila pasien memperlihatkan tanda-tanda kegelisahan, saluran napas harus diinspeksi dengan seksama untuk mendeteksi kemungkinan edema laring atau penumpukan mukus trakeobrokial.

Sekret ini jika perlu dapat diisap (di-suction) sampai pasien dapat mengatasi sekretnya sendiri tanpa bantuan alat pengisap (suction). Bilamana pasien menjalani trakeostomi, tindakan pengisapan dilakukan dengan teknik yang steril untuk mencegah infeksi dan kontaminasi-silang.

Mencapai Kenyamanan dan Menghilangkan Rasa Nyeri.

Edema wajah merupakan keadaan yang tidak nyaman dan dapat terjadi sebagai akibat dari pembedahan rekonstruktif fasial. Kepala pasien dan badan bagian atas dapat agak ditinggikan (jika tekanan darahnya stabil) untuk membantu mengurangi edema fasial.

Keteter pengisap yang dihubungkan dengan alat drainase tertutup dapat dipasang untuk menjaga agar jaringan berada dalam posisi rapat dan mengeluarkan sekret yang serous.

Jika dilakukan bedah yang rekonstruksi yang luas, bagian kepala pasien harus berada dalam posisi lurus dan disangga agar tidak timbul regangan yang maksimal pada garis jahitan.

Preparat analgesik dengan dosis yang kecil diresepkan dokter untuk mengendalikan rasa nyeri. Jika dilakukan pemasangan graft tulang untuk rekonstruksi, biasanya didaerah donor terjadi rasa nyeri yang cukup hebat.

Bila pasien menderita kanker kepala serta leher dengan tingkat nyeri yang terus bertambah, tatalaksana perawat yang lebih canggih mungkin diperlukan.