Gangguan Neurologi Ensefalopati HIV

https://www.infokeperawatan.comDiperkirakan ada 80% dari semua pasien AIDS yang mengalami bentuk kelainan neurologic tertentu selama perjalanan infeksi HIV.

Banyak kelainan neuropatologik yang kurang dilaporkan mengingat pasien-pasien tersebut dapat menderiita kelainan neurologic tanpa tanda-tanda dan gejala yang jelas.

Komplikasi neurologic meliputi fungsi saraf sentral, perifer dan autonum. Gangguan fungsi neurologic dapat terjadi akibat efek langsung HIV pada jaringan system saraf,infeksi oportunis, neoplasma primer atau metastatic, perubahan serebrovaskuler, ensefalopati metabolic atau komplikasi sekunder karena terapi.

Respons system imun terhadap infeksi HIV dalam system saraf pusat mencakup inflamasi, atrofi, demielinisasi, degenarasi dan nekrosis.

Ensefalopati HIV

Disebut pula sebagai kompleks demensia AIDS (ADC; AIDS dementia Complex), enselopati HIV terjadi sedikitnya pada dua pertiga pasien AIDS. Bukti akhir menunjukkan bahwa kompleks demensia AIDS tersebut merupakan akibat langsung infeksi HIV.

HIV ditemukan dengan jumlah yang besar dalam otak maupun cairan serebrospinal pasien-pasien ADC. Sel-sel otak yang terinfeksi HIV didominasi oleh sel-sel CD4+ yang berasal dari monosit/makrofag.

Infeksi HIV diyakini akan memicu toksin atau limfokin yang mengakibatkan disfungsi seluler atau yang mengganggu fungsi neurotransmitter ketimbang menyebabkan kerusakan seluler.

Keadaan ini berupa sindrom klinis yang ditandai oleh penurunan progresif pada fungsi kognitif, perilaku dan motorik. Tanda-tanda dan gejalanya dapat samar serta sulit dibedakan dengan kelelahan, depresi atau efek terapi yang merugikan terhadap infeksi dan malignansi.

Manifestasi dini mencakup gangguan daya ingat, sakit kepala, kesulitan berkonsentrasi, konfusi progresif, pelambatan psikomotorik, apatis dan ataksia.

Stadium lanjut mencakup gangguan kognitif global, kelambatan dalam respon verbal, gangguan afektif seperti pandangan yang kosong, hiperrefleksi paraparesis spastic, psikosis, halusinasi, tremor, inkontinensia, serangan kejang, mutisme dan kematian.

Tindakan memastikan diagnosis ensefalopati HIV mungkin sulit dilakukan. Evaluasi neurologic ekstensif mencakup pemindaian CT yang dapat menunjukkan atrofi serebral yang difus dan pelebaran ventrikulus.

Pemeriksaan lain yang dapat mendeteksi abnormalitas adalah MRI, analisis cairan serebrospinal melalui pungsi lumbal dan biopsy otak.