Gama Knife Obati Tumor Tanpa Operasi

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan, Karawaci Tangerang Provinsi Banten, Prof Dr Eka Julianta Wahjoeparmono mengatakan, peralatan kedokteran “gama knife” dapat mengobati tumor sulit diditeksi, tanpa operasi. “Saat ini peralatan ‘gama knife’ belum ada di Indonesia karena harganya mahal, sehingga penderita tumor terpaksa berobat ke luar negeri,” katanya di Nusa Dua Bali, Kamis. Pernyataan itu, disampaikan Eka disela-sela seminar internasional tentang bedah saraf yang diikuti 210 peserta dari mancanegara. Menurut dia, bila ada pasien yang menderita penyakit tumor pada kepala, dan sulit untuk dideteksi termasuk dengan operasi karena keterbatasan alat untuk membuangnya, bisa dilakukan dengan “gama knife” itu. “Penggunaan alat itu, bisa dilakukan dengan cara ditembakkan menggunakan sinar,” ujarnya.

Dia menambahkan, Universitas Pelita Harapan, berencana membeli perlatan kedokteran itu pada 2011, meski harganya mencapai 6 juta dolar Amerika Serikat dengan menggandeng rekanan dari Negara Paman Sam tersebut. Presiden Organisasi Bedah Syaraf Asia dan Oceania itu, juga menyayangkan banyaknya penderita tumor yang berobat ke luar negeri dengan biaya yang mahal, padahal bila alat itu ada dapat diatasi para ahli bedah syaraf di Indonesia. Sebagai contoh, untuk operasi tumor yang sulit dideteksi itu, maka warga Indonesia harus mengeluarkan uang mencapai Rp130 juta bila berobat ke Singapura dan jika ke Taiwan sebesar Rp75 juta. “Memang tidak semua penderita tumor atau penyakit syaraf lainnya berobat ke luar negeri, ada juga yang di dalam negeri. Di Rumah Sakit Siloam, Karawaci, tempat saya praktik, menangani sekitar 300 pasien per tahun,” katanya.

Ia juga menjelaskan, berdasarkan kajian penggunaan “gama knife” dapat mengurangi penderita penyakit gila yang diderita pasien. Menyangkut sumber daya manusia bidan kedokteran bedah saraf di Indonesia, menurut dia, tidak kalah dengan luar negeri, hanya perlatannya yang tebatas. Eka juga mengatakan, saat ini cukup banyak pasien gangguan syaraf dari luar negeri, seperti Singapura, Hongkong, Malaysia, Belanda, Kanada, Swiss dan Amerika Serikat menjalani operasi dan perawatan di RS Siloam Karawaci, dengan biaya relatif murah.

“Biaya di kota cukup murah. Untuk pengobatan pasien yang syarafnya terjepit misalnya hanya Rp60 juta, sementara di Singapura mencapai Rp400 juta,” ujarnya. Demikian pula bila ada pasien menderita pecah pembuluh darah di otak, jika berobat ke Amerika mengeluarkan dana sebesar Rp250 miliar tapi bila di RS siloam hanya Rp500 juta.