Gagal Napas Akut dan Kerusakan Organ Viseral

https://www.infokeperawatan.comGagal Napas Akut dan Adult Respiratory Distress Syndrome

Status respirasi pasien harus dipantau dengan ketat untuk mendeteksi peningkatan kesulitan bernapas, perubahan pada pola pernapasan dan awitan suara-suara tambahan (abnormal).

Secara khas dalam stadium ini akan muncul tanda dan gejala cedera pada traktus respiratorius. Kemudian terjadi gagal napas. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, tanda-tanda hipoksia (penipisan oksigen), berkurangnya suara pernapasan, mengi, takipnea, stridor dan sputum dengan bercak arang/hangus (atau pada sebagian kasus, potongan jaringan trakea yang mengelupas) merupakan sebagian dari banyak gejala yang mungkin ditemukan melalui auskultasi atau observasi.

Pasien dengan ventilasi mekanis harus dikaji untuk mendeteksi penurunan volume tidal dan kelenturan paru. Tanda yang mencirikan onset timbulnya adult respiratory distress syndrome (ARDS) adalah hipoksemia pada pemberian oksigen 100%, penurunan kelenturan paru dan gejala pirau (shunting) yang signifikan. Dokter harus segera diberi tahu jika status respirasi pasien memburuk.

Penanganan medis pasien dengan gagal napas akut memerlukan intubasi dan ventilasi mekanis jika kedua tindakan ini belum dilakukan. Bila sudah terjadi ARDS, pemberian oksigen dengan kadar yang lebih tinggi, pelaksanaan PEEP (positive end-expiratory pressure) dan PS (pressure support) akan dilaksanakan bersama ventilasi mekanis untuk meningkatkan pertukaran gas lewat membrane alveoli-kapiler.

Kerusakan Organ Viseral.

Perawat harus waspada terhadap tanda-tanda nekrosis organ visceral yang mengalami cedera elektrik. Jaringan yang terkena luka bakar elektrik biasanya berada di antara tempat masuk dan keluar arus listrik tersebut.

Semua pasien dengan luka bakar elektrik harus menjalani pemantauan EKG, dan gejala aritmia yang terjadi harus segera dilaporkan kepada dokter.

Perhatian yang besar harus diberikan pula pada tanda-tanda atau keluhan rasa nyeri yang berhubungan dengan iskemia otot profunda pada pasien-pasien ini.

Untuk meminimalkan intensitas komplikasi, keadaan iskemia visesral harus dideteksi sedini mungkin. Dokter dapat melakukan fasiotomi untuk mengurangi pembengkakan dan iskemia pada otot serta fasia dan untuk mempermudah oksigenasi pada jaringan yang cedera.

Karena pemotongan yang dalam harus dilakukan pada tindakan fasiotomi, kondisi pasien harus dipantau dengan seksama untuk mendeteksi tanda-tanda kehilangan darah yang berlebihan dan hipovolemia.