Diagnosis Penyakit Vaginosis Bakterial

Vaginosis Bakterial DIAGNOSIS

Vaginosis bakterial didiagnosis menggunakan kriteria Amsel (Amsel et al, 1983). Paling sedikit 3 dari 4 kriteria ditemukan untuk diagnosis vaginosis bakterial yaitu:

1) Sekret vagina homogen, tipis, putih, melekat pada dinding vagina.

2) pH vagina > 4,5.

3) Bau ‘amis’ dari sekret vagina setelah penambahan KOH 10%.

4) Adanya clue cells (lebih dari 20%).

1. Sekret vagina: perempuan dengan vaginosis bakterial biasanya mengeluhkan peningkatan sekret vagina. Sekret vagina ini biasanya tipis, putih keabu-abuan, homogen dan melekat pada dinding vagina. Adanya cairan seminal dapat dikonfirmasi dengan mendeteksi spermatozoa, dapat menyebabkan sekret vagina cair, keabu-abuan, malodor, dapat diinterpretasi salah sebagai indikasi bacterial vaginosis.

2. pH vagina: pH vagina mudah ditentukan dengan menggunakan kertas lakmus (interval 4,0 — 7,0). Biasanya pH vagina vaginosis bakterial > 4,7. Spesifisitas untuk kriteria ini rendah. Bila digunakan batas pH 5,0 seperti yang diusulkan oleh Gardner & Dukes (1955), spesifisitasnya menjadi sangat meningkat. pH vagina mempunyai sensitivitas yang paling besar dari ke-4 tanda klinis, tetapi spesifisitasnya paling rendah.

3. Bau: bau amis pada vagina adalah gejala yang paling sering dikeluhkan penderita vaginosis bakterial dan bau amis tersebut semakin bertambah dengan penambahan KOH 10%. Bau disebabkan karena pelepasan amin terutama putresin dan kadaverin. Semen bersifat alkali, hal ini dapat menjelaskan peningkatan bau amis sesudah hubungan seksual.

4. Clue cells adalah sel epitel vagina yang ditutupi oleh bakteri vagina dengan gambaran granular dan batas sel yang kabur karena perlekatan bakteri termasuk Gardnerella, Mobilincus, dan bakteri lainnya. Setidaknya 20% sel epitel vagina menjadi clue cells untuk menegakkan kriteria diagnosis vaginosis bakterial. Ditemukan hubungan yang bermakna antara adanya clue cells dan vaginosis bakterial, spesifisitas dan sensitivitas pada kriteria ini tinggi. Perempuan yang mempunvai clue cells tetapi tidak memenuhi kriteria lainnya untuk diagnosis vaginosis bakterial kemungkinan akan menderita vaginosis bakterial dalam waktu singkat.

DIAGNOSIS BANDING

1. Trikomoniasis: pemeriksaan apusan vagina trikomoniasis sering sangat menyerupai penampakan pemeriksaan hapusan vaginosis bakterial. Tapi Mobilincus dan clue cells tidak pernah ditemukan pada trikomoniasis. Pemeriksaan mikroskopik tampak peningkatan sel polimorfonuklear dan dengan pemeriksaan preparat basah ditemukan protozoa untuk diagnostik. Whiff test dapat positif pada trikomoniasis dan pH vagina 5 pada trikomoniasis.

2. Kandidiasis: pada pemeriksaan mikroskopik, sekret vagina ditambah KOH 10% berguna untuk mendeteksi hifa dan spora kandida. Keluhan yang paling sering pada kandidiasis adalah gatal dan iritasi vagina. Sekret vagina biasanya putih dan tebal, tanpa bau dan pH normal.

Tabel 7

Gejala-gejala kandidiasis, trikomoniasis, vaginosis bakterial

  KANDIDIASIS TRIKOMONIASIS V. BAKTERIAL
Gejala Gatal Nyeri Berbau
Tanda Inflamasi Inflamasi Non Inflamasi
Warna Putih Kuning/hijau Abu-abu
Konsistensi Tebal Berbusa Cair
Bau Jamur Amis Amis
PH 4-5 5-6 5-6
Mikroskopik Netrofil, pseudohifa, spora Netrofil,

T. vaginalis

Tidak ada netrofil. clue cells
Kultur C. albicans, Candida spesies T. vaginalis

 

Bacteroides spp. G. vaginalis. Mobilincus spp, M.hominis, Peptostreptococcus