Cara Mengurangi Keletihan pada Pasien Rematik

https://www.infokeperawatan.comKeletihan yang berhubungan dengan penyakit reumatik dapat bersifat akut (singkat dan segera mereda setelah pasien beristirahat atau tidur), dan kronik.

Keletihan yang kronik, yang berhubungan dengan proses penyakitnya, bersifat persisten, kumulatif dan tidak dihilangkan dengan istirahat tetapi bisa dipengaruhi oleh faktor-faktor biologi, psikologi, sosial serta personal.

Faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit yang dapat mempengaruhi besarnya dan beratnya keadaan mudah lelah mencakup rasa nyeri yang persisten, gangguan tidur, gangguan aktivitas fisik dan lamanya perjalanan penyakit.

Rasa nyeri akan menambah keluhan mudah lelah karena memerlukan energi fisik dan emosional ekstra untuk mengatasi nyeri tersebut.

Nyeri juga dapat menyebabkan pasien menggunakan energi yang lebih besar dalam melaksanakan tugas-tugas dengan cara yang tidak begitu banyak menimbulkan nyeri. Serangan nyeri juga dapat mengganggu tidur pasien sehingga mempengaruhi tingkat keadaan mudah lelah.

Intervensi keperawatan ditunjukan untuk memodifikasi dan mengurangi keletihan. Berbagai upaya untuk memperoleh energi dapat dilakukan dengan memanfaatkan periode istirahat.

Kebutuhan pasien akan menentukan tipe istirahat dan seberapa lama istirahat diperlukan. Tidur siang atau tidur pada malam hari dapat memberikan istirahat sistemik.

Pemakaian bidai dapat mengistirahatkan sendi dengan membatasi gerak dan stres pada sendi tersebut. Teknik-teknik relaksasi dapat memberikan istrirahat emosional.

Kekakuan sendi, depresi dan obat-obatan dapat pula mengganggu kualitas tidur dan meningkatkan keadaan mudah lelah di sepanjang hari.

Ketidak aktifan seorang penderita artritis dapat menimbulkan dekondisioning dan keletihan; karena itu, tindakan untuk membangun ketahanan fisik harus dilaksanakan.

Latihan dekondisioning, seperti berjalan, berenang atau bersepeda, harus dilakukan secara bertahap dan dengan pemantauan aktivitas penyakitnya.

Faktor-faktor psikososial yang mengakibatkan keadaaan mudah lelah mencakup depresi, keadaan tidak berdaya yang dialami dan dukungan sosial yang didapat.

Semua faktor ini mempengaruhi persepsi dan evaluasi pasien terhadap keadaan mudah lelah. Perbaikan status fungsioanal dapat memberikan pengaruh yang positif pada emosi pasien.