Cara Mengkaji Pasien Dengan Kulit Gelap

https://www.infokeperawatan.comGradasi warna yang terjadi pada orang yang berkulit gelap terutama ditemukan oleh transmisi genetik; gradasi ini dapat dinyatakan sebagai warna yang cerah, sedang atau gelap.

Pada orang yang berkulit gelap, melanin diproduksi dengan kecepatan yang lebih besar dan jumlah yang lebih banyak dibandingkan pada orang yang kulitnya lebih cerah.

Kulit yang gelap dan sehat memiliki dasar kemerahan atau undertone. Mukosa pipi, lidah, bibir, dan kuku dalam keadaan normal tampak merah muda.

Dalam pemeriksaan pasien yang berkulit gelap, cahaya ruangan harus baik dan pemeriksaan dilakukan terhadap kulit serta dasar kuku di samping mulut. Semua daerah yang dicurigai harus dipalpasi

Derajat pigmentasi pada sakit pasien yang berwarna gelap dapat mempengaruhi penampakan suatu lesi. Lesi dapat berwarna hitam, ungu atau abu-abu dan bukannya berwarna merah atau cokelat kekuningan seperti yang terlihat pada pasien yang berkulit cerah.

Eritema.

karena adanya kecenderungan pada kulit gelap untuk berwarna kelabu kebiruan ketika terdapt reaksi inflamasi, eritema (kemerahan pada kulit yang disebabkan oleh kongesti kapiler) mungkin sulit terdeteksi.

Untuk menentukan inflamasi yang mungkin terdapat, kulit dipalpasi agar bertambahnya kehagatan atau kelicinan (edema) atau kekerasan pada kulit dapat ketahui. Kelenjar limfe disekitarnya juga harus dipalpasi.

Ruam.

Pada kasus-kasus pruritus (gatal-gatal), kepada pasien harus diminta untuk menunjukkan bagian tubuh yang terasa gatal. Kemudian kulit diregangkan dengan hati-hati untuk mengurangi tonus kemerahan dan membuat ruam tersebut menghilang.

Perbedaan tekstur kulit dinilai dengan menggerakkan ujung-ujung jari tangan yang menyentuh secara ringan pada permukaan kulit. Biasanya bagian tepi ruam dapat diraba.

Mulut dan telinga pasien harus turut diperiksa (kadang-kadang rubeola atau campak akan menimbulkan ruam berwarna merah pada ujung telinga). Akhirnya, suhu pasien dinilai dan kelenjar limfe dipalpasi.

Sianosis.

Bila seorang pasien yang berkulit gelap mengalami syok, kulit biasanya berwarna kelabu. Untuk mendeteksi sianosis, daerah di sekitar mulut serta bibir dan daerah tulang pipi serta daun telinga harus diamati.

Indikator lainnya adalah kulit yang basah dan dingin; denyut nadi yang cepat dan lembut; dan respirasi yang cepat serta dangkal. Ketika dilakukan pemeriksaan konjungtiva palpebra untuk menemukan petekie (bintik-bintik halus berwarna merah akibat keluarnya darah), tanda ini tidak boleh dikelirukan dengan endapan melanin yang normal.

Perubahan warna.

Perubahan warna kulit pada orang yang berkulit gelap dapat diketahui dan biasanya menimbulkan distres pada pasiennya. Sebagai contoh, hipopigmentasi (kehilangan atau berkurannya warna kulit) yang dapat disebabkan oleh vitiligo (suatu keadaan yang ditandai oleh penghancuran melanosit pada daerah kulit yang terbatas atau luas) dapat menimbulkan keprihatinan yang lebih besar pada orang yang berkulit gelap karena lesi tersebut lebih mudah terlihat.

Hiperpigmentasi (peningkatan warna) dapat timbul sesudah terjadi penyakit atau cedera pada kulit. Lipatan nasal berpigmen di bawah mata mungkin merupakan tanda eksternal alergi. Namun, guratan berpigmen pada kuku dianggap sebagai keadaan yang normal.

Pada umumnya orang yang berkulit gelap akan menderita kelainan kulit yang sama seperti orang yang berkulit cerah, kendaki lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami penyakit kanker kulit dan skabies.

Sebaliknya, orang yang berkulit gelap memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk mengalami pembentukan keloid atau jaringan perut dan kelainan yang mengakibatkan oklusi atau penyumbatan folikel rambut. Memberikan tinjauan yang menyeluruh mengenai perubahan warna pada orang yang berkulit cerah dan gelap.