Pathway Gangguan Istirahat Tidur

pathway-gangguan-istirahat-tidurMengapa harus ada gangguan tidur? Padahal tidur seharusnya bagian dari ritme biologis tubuh untuk mengembalikan stamina. Namun tidak semua orang mendapatkan kualitas tidur yang nyenyak. Kebutuhan tidur bervariasi pada masing-masing orang, umumnya 6-8 jam per hari. Agar tetap sehat, yang perlu diperhatikan adalah kualitas tidur.

Tidur merupakan suatu proses otak yang dibutuhkan oleh seseorang untuk dapat berfungsi dengan baik. Masyarakat awam belum begitu mengenal gangguan tidur sehingga jarang mencari pertolongan. Pendapat yang menyatakan bahwa tidak ada orang yang meninggal karena tidak tidur adalah tidak benar. Beberapa gangguan tidur dapat mengancam jiwa baik secara langsung (misalnya insomnia yang bersifat keturunan dan fatal dan apnea tidur obstruktif) atau secara tidak langsung misalnya kecelakaan akibat gangguan tidur.

Di Amerika Serikat, biaya kecelakaan yang berhubungan dengan gangguan tidur per tahun sekitar seratus juta dolar. Insomnia merupakan gangguan tidur yang paling sering ditemukan. Setiap tahun diperkirakan sekitar 20%-50% orang dewasa melaporkan adanya gangguan tidur dan sekitar 17% mengalami gangguan tidur yang serius. Prevalensi gangguan tidur pada lansia cukup tinggi yaitu sekitar 67 %. Walaupun demikian, hanya satu dari delapan kasus yang menyatakan bahwa gangguan tidurnya telah didiagnosis oleh dokter.

Gangguan tidur adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami kesulitan untuk tidur atau kesulitan untuk tetap tertidur yang membuat penderita merasa belum cukup tidur pada saat terbangun.

Gangguan tidur merupakan keadaan kesukaran dalam memulai atau mempertahankan tidur yang dialami oleh penderita dengan gejala-gejala selalu merasa letih dan lelah sepanjang hari dan secara terus menerus mengalami kesulitan untuk tidur atau selalu terbangun di tengah malam dan tidak dapat kembali tidur.

Etiologi

Gangguan tidur bukanlah suatu penyakit melainkan gejala yang memiliki banyak faktor yang dapat menyebabkan atau dapat dikatakan tidak mempunyai penyebab pasti terjadinya gangguan tidur ini.

Faktor resiko yang dapat menyebabkan gangguan tidur yaitu :

  1. Faktor Psikologi
  • Stres yang berkepanjangan paling sering menjadi penyabab dari Insomnia jenis kronis, sedangkan berita-berita buruk gagal rencana dapat menjadi penyebab insomnia transient.
  • Problem Psikiatri
  • Depresi paling sering ditemukan. Kamu bangun lebih pagi dari biasanya yang tidak kamu ingini, adalah gejala paling umum dari awal depresi , Cemas ,Neorosa, dan gangguan psikologi lainnya sering menjadi penyebab dari gangguan tidur.
  • Sakit Fisik
  • Sesak nafas pada orang yang terserang asma, sinus, flu sehingga hidung yang tersumbat dapat merupakan penyebab gangguan tidur. Selama penyebab fisik atau sakit fisik tersebut belum dapat di tanggulangi dengan baik ,gangguan tidur atau sulit tidur akan dapat tetap dapat terjadi.

      2. Faktor Lingkungan

  • Lingkungan yang bising seperti lingkungan lintasan pesawat jet, lintasan kereta api, pabrik atau bahkan TV tetangga dapat menjadi faktor penyebab susah tidur.
  • Gaya Hidup
  • Alkohol , rokok, kopi, obat penurun berat badan, jam kerja yang tidak teratur, juga dapat menjadi faktor penyebab sulit tidur.

Terdapat beberapa perilaku yang dapat menyebabkan seseorang mengalami gangguan tidur , yaitu :

  • Higienitas tidur yang kurang secara umum (cuci muka, dll)
  • Kekhawatiran tidak dapat tidur
  • Mengkonsumsi caffein secara berlebihan
  • Minum alkohol sebelum tidur
  • Merokok sebelum tidur
  • Tidur siang/sore yang berlebihan
  • Jadwal tidur/bangun yang tidak teratur

Klasifikasi

Menurut situs melileaorganik (2008) gangguan tidur terbagi atas 3 (tiga) jenis, yaitu :

  • Jenis transient (artinya cepat berlalu), oleh karena itu gangguan tidur jenis ini hanya terjadi beberapa malam saja.
  • Jenis Jangka pendek. Jenis ini dapat belangsung sampai beberapa minggu dan biasanya akan kembali seperti biasa.
  • Jenis kronis (atau parah) gangguan tidak dapat tidur berlangsung lebih dari 3 minggu.

Tanda dan Gejala

Menurut Remelda (2008), tanda dan gejala yang timbul dari pasien yang mengalami gangguan tidur yaitu penderita mengalami kesulitan untuk tertidur atau sering terjaga di malam hari dan sepanjang hari merasakan kelelahan.

Gangguan tidur juga bisa dialami dengan berbagai cara:

  • Sulit untuk tidur tidak ada masalah untuk tidur namun mengalami kesulitan untuk tetap tidur (sering bangun)
  • Bangun terlalu awal

Kesulitan tidur hanyalah satu dari beberapa gejala gangguan tidur. Gejala yang dialami waktu siang hari adalah :

  • Mengantuk
  • Resah
  • Sulit berkonsentrasi
  • Sulit mengingat
  • Gampang tersinggung

Dampak Gangguan tidur

Berbagai dampak merugikan yang ditimbul dari gangguan tidur yaitu :

  • Depresi
  • Kesulitan untuk berkonsentrasi
  • Aktivitas sehari-hari menjadi terganggu
  • Prestasi kerja atau belajar mengalami penurunan
  • Mengalami kelelahan di siang hari
  • Hubungan interpersonal dengan orang lain menjadi buruk
  • Meningkatkan risiko kematian
  • Menyebabkan kecelakaan karena mengalami kelelahan yang berlebihan
  • Memunculkan berbagai penyakit fisik

Dampak gangguan tidur tidak dapat di anggap remeh, karena bisa menimbulkan kondisi yang lebih serius dan membahayakan kesehatan dan keselamatan. Oleh karenanya, setiap penderita gangguan tidur perlu mencari jalan keluar yang tepat.

Pemeriksaan Diagnostik

Menurut Remelda (2008) untuk mendiagnosis seseorang mengalami gangguan atau tidak dapat dilakukan pemeriksaan melalui penilaian terhadap :

  • Pola tidur penderita
  • Pemakaian obat-obatan, alkohol atau obat terlarang
  • Tingkatan stres psikis
  • Riwayat medis
  • Aktivitas fisik.

Penatalaksanaan dan Terapi

Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada pasien dengan insomnia ini dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu :
1. Tindakan Keperawatan

  • Kaji efek samping pengobatan pada pola tidur klien.
  • Pantau pola tidur klien dan catat hubungan faktor-faktor fisik (misalnya : apnea saat tidur, sumbatan jalan nafas, nyeri/ketidaknyamanan, dan sering berkemih).
  • Jelaskan pada klien pentingnya tidur adekuat (selama kehamilan, sakit, stress psikososial).
  • Ajarkan klien dan keluarga untuk menghindari faktor penyebab (misal : gaya hidup, diet, aktivitas, dan faktor lingkungan).
  • Ajarkan klien dan kelurga dalam teknik relaksasi (pijat/urut sebelum tidur, mandi air hangat, minum susu hangat).

Tindakan keperawatan pada pasien gangguan tidur dimulai dengan menghilangkan kebiasaan (pindah tempat tidur, memakai tempat tidur hanya untuk tidur, dll). Jika tidak berhasil dapat diberikan obat golongan hipnotik (harus konsultasi dengan psikiater).

2. Tindakan Medis

Menurut Remelda (2008) untuk tindakan medis pada pasien gangguan tidur yaitu dengan cara pemberian obat golongan hipnotik-sedatif misalnya : Benzodiazepin (Diazepam, Lorazepam, Triazolam, Klordiazepoksid) tetapi efek samping dari obat tersebut mengakibatkan Inkoordinsi motorik, gangguan fungsi mental dan psikomotor, gangguan koordinasi berpikir, mulut kering, dsb.

Therapy

1. CBT (Cognitive Behavioral Therapy)

CBT digunakan untuk memperbaiki distorsi kognitif si penderita dalam memandang dirinya, lingkungannya, masa depannya, dan untuk meningkatkan rasa percaya dirinya sehingga si penderita merasa berdaya atau merasa bahwa dirinya masih berharga.

2. Sleep Restriction Therapy

Sleep restriction therapy digunakan untuk memperbaiki efisiensi tidur si penderita gangguan tidur

3. Stimulus Control Therapy
Stimulus control therapy berguna untuk mempertahankan waktu bangun pagi si penderita secara reguler dengan memperhatikan waktu tidur malam dan melarang si penderita untuk tidur pada siang hari meski hanya sesaat.

4. Relaxation Therapy

Relaxation Therapy berguna untuk membuat si penderita rileks pada saat dihadapkan pada kondisi yang penuh ketegangan.

5. Cognitive Therapy

Cognitive Therapy berguna untuk mengidentifikasi sikap dan kepercayaan si penderita yang salah mengenai tidur.

6. Imagery Training

Imagery Training berguna untuk mengganti pikiran-pikiran si penderita yang tidak menyenangkan menjadi pikiran-pikiran yang menyenangkan.

Banyak di antara para penderita gangguan tidur karena factor psikologis yang menggunakan obat tidur untuk mengatasi gangguan tidur. Namun penggunaan yang terus menerus tentu menimbulkan efek samping yang negative, baik secara fisiologis (efek terhadap organ dan fungsi organ tubuh) serta efek psikologis. Logikanya, gangguan tidur yang disebabkan factor psikologis, berarti factor psikologis itu lah yang harus di atasi, bukan symtomnya. Kalau kita hanya focus mengatasi simtom-nya dengan minum berbagai obat tidur, maka ketika mata terbuka, masalah akan datang kembali, bahkan akan dirasa lebih berat karena dibiarkan berlarut-larut tanpa solusi pada akar masalah.

Perlu diketahui, bahwa keberhasilan terapi tergantung dari motivasi si penderita untuk sembuh sehingga si penderita harus sabar, tekun dan bersungguh-sungguh dalam menjalani sesi terapi. Selain itu, sebaiknya terapi yang dilakukan juga diiringi dengan pemberian terapi keluarga. Hal ini disebabkan, dalam terapi keluarga, anggota keluarga si penderita dilibatkan untuk membantu kesembuhan si penderita. Dalam terapi keluarga, anggota keluarga si penderita juga diberi tahu tentang seluk beluk kondisi si penderita dan diharapkan anggota keluarganya dapat berempati untuk membantu kesembuhan si penderita.

Asuhan keperawatan

Pengkajian

  • Kaji efek samping pengobatan pada pola tidur klien.
  • Pantau pola tidur klien dan catat hubungan faktor-faktor fisik (misalnya : apnea saat tidur, sumbatan jalan nafas, nyeri/ketidaknyamanan, dan sering berkemih).
  • Jelaskan pada klien pentingnya tidur adekuat (selama kehamilan, sakit, stress psikososial).
  • Ajarkan klien dan keluarga untuk menghindari faktor penyebab (misal : gaya hidup, diet, aktivitas, dan faktor lingkungan).
  • Ajarkan klien dan kelurga dalam teknik relaksasi (pijat/urut sebelum tidur, mandi air hangat, minum susu hangat).

Diagnaosa Keperawatan

  • Gangguan pola tidur b.d ketidaksinkronan “circadian”.
  • Kelelahan b.d cemas, kurang tidur, kondisi penyakit.
  • Kurangnya pengetahuan tentang pengobatan b.d keterbatasan kognitif, interpretasi yang salah tentang informasi.

Intervensi Keperawatan

  1. Gangguan pola tidur
  • Tetapkan pola tidur/aktivitas pasien dan perkirakan siklus bangun/tidur reguler pasien dalam asuhan keperawatan.
  • Jelaskan pentingnya istirahat yang cukup.
  • Tetapkan efek pengobatan pada pola tidur pasien.
  • Monitor pola tidur , jumlah jam tidur, dan
  • Catat observasi fisik yang ditemukan misalnya “sleep apnea”, sumbatan jalan nafas, dsb.
  • Awasi pola tidur pasien, pertahankan lingkungan yang nyaman untuk meningkatkan tidur pasien, dan hindari memberikan obat pada jam tidur pasien
  • Bantu menghilangkan situasi stress sebelum tidur.

      2. Kelelahan :

  • Tetapkan pembatasan fisik pasien.
  • Tetapkan persepsi pasien tentang penyebab kelelahan, dan dorong pengungkapan verbal tentang pembatasan aktifitas.
  • Tetapkan penyebab kelelahan, awasi pasien terhadap kelelahan akibat emosional.
  • Monitor pola tidur pasien serta tingkatkan istirahat dan pembatasan aktifitas.
  • Gunakan “ROM” aktif/pasif untuk menghilangkan ketegangan otot, dan ajarkan pada pasien teknik meminimalkan konsumsi oksigen misal pengawasan diri, dsb.
  • Monitor pemberian dan efek obat yang bersifat depressants dan stimultants.

     3. Kurangnya pengetahuan tentang pengobatan :

  • Informasikan pada pasien generik dan merek dagang dari masing masing obat, instruksikan pada pasien untuk memperhatikan maksud dan kerja masing-masing obat.
  • Jelaskan pada pasien tentang dosis, cara pemakaian, lamanya pemakaian, dan kemungkinan efek samping tiap obat serta evaluasi kemampuan pasien mengobati diri sendiri.
  • Jelaskan tentang tanda dan gejala kelebihan dan kekurangan dosis obat pada pasien.
  • Jelaskan pada pasien dan keluarga kemungkinan ketergantungan terhadap obat barbiturate atau benzodiazepin dalam 1 sampai 10 hari yang ditandai dengan kesulitan berpikir, pusing, nafsu makan menurun, gangguan sensori, mual, muntah, insomnia, dan mungkin disertai kejang.

Kesimpulan

Gangguan tidur adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami kesulitan untuk tidur atau kesulitan untuk tetap tertidur yang membuat penderita merasa belum cukup tidur pada saat terbangun

Faktor resiko yang dapat menyebabkan gangguan tidur yaitu :

  • Faktor Psikologi
  • Faktor Lingkungan

Tanda dan gejala yang timbul dari pasien yang mengalami gangguan tidur yaitu penderita mengalami kesulitan untuk tertidur atau sering terjaga di malam hari dan sepanjang hari merasakan kelelahan.

Berbagai dampak merugikan yang ditimbul dari gangguan tidur yaitu :

  • Depresi
  • Kesulitan untuk berkonsentrasi
  • Aktivitas sehari-hari menjadi terganggu
  • Prestasi kerja atau belajar mengalami penurunan
  • Mengalami kelelahan di siang hari
  • Hubungan interpersonal dengan orang lain menjadi buruk
  • Meningkatkan risiko kematian
  • Menyebabkan kecelakaan karena mengalami kelelahan yang berlebihan
  • Memunculkan berbagai penyakit fisik